TERASBATAM.ID – Alasan PT PLN Batam dan pemerintah terkait penyebab pemadaman listrik total (blackout) pada Senin (12/10/2026) kian dipertanyakan warga. Dugaan bahwa hewan liar seperti monyet, kelelawar, hingga petir menjadi pemicu utamanya dinilai janggal oleh warga yang tinggal tepat di sekitar Gardu Induk Sei Harapan, Sekupang, Batam.
Sebelumnya, Sekretaris Perusahaan PT PLN Batam, Rudi Antono, menyatakan indikasi awal gangguan kelistrikan yang melumpuhkan Batam, Bintan, hingga Tanjungpinang berjam-jam tersebut diduga dipicu oleh masuknya hewan liar ke area Gardu Induk Sungai Harapan. Namun, ia menegaskan penyebab pastinya masih dalam proses penelusuran tim teknis.
Mustaqim, warga setempat yang telah bermukim di dekat gardu induk selama 30 tahun, meragukan klaim tersebut tanpa adanya bukti teknis yang terbuka.
“Kalau warga sekitar sini dibilang gara-gara monyet, enggak lah. Kalau monyet kan ada bunyinya. Monyet di sini biasanya ke bawah sana cari makan, bukan berkeliaran di instalasi gardu,” ujar Mustaqim saat ditemui di lokasi.
Ia menambahkan, selama tiga dekade bermukim di sana, krisis kelistrikan sebesar ini belum pernah terjadi hanya karena keberadaan hewan liar. “Kami sudah 30 tahun di sini, belum pernah terjadi kayak gini. Berarti asal saja itu ngomong,” ketusnya.
Suara Ledakan Keras Tanpa Hujan
Kesaksian senada diutarakan Nikson, warga yang tinggal sejak 2012 di dekat lokasi kejadian. Nikson mengaku mendengar suara menggelegar seperti ledakan pada Senin pagi sekira pukul 06.30 WIB, bertepatan dengan detik-detik listrik mendadak padam total.
“Kedengaran suaranya meledak, kayak bom. Saat itu tidak sedang hujan. Warga sampai di RT 1 kaget semua,” ungkap Nikson.
Menurut Nikson, meski populasi monyet memang kerap terlihat pada pagi dan sore hari di kawasan permukiman, keberadaan satwa tersebut tidak pernah memicu korsleting skala besar. Saat ledakan terjadi, ia melihat kilatan cahaya tanpa disertai kepulan asap dari area gardu induk.
Bahlil Sebut Kelelawar dan Petir
Simpang siur penyebab blackout semakin menyita perhatian publik setelah Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memberikan penjelasan berbeda. Bahlil menyebut gangguan diduga dipicu oleh persoalan teknis jaringan akibat sambaran petir hingga satwa lain.
“Teknisnya itu ada tiga, salah satu di antaranya katanya ada hewan, kena kelelawar atau apa, kira-kira begitu,” kata Bahlil.
Perbedaan keterangan antara sinyal “monyet” dari indikasi awal PLN Batam, dugaan “kelelawar dan petir” dari Menteri ESDM, serta kesaksian warga yang mendengar ledakan di saat cuaca cerah memicu desakan agar PLN Batam membuka hasil investigasi teknis secara transparan.
Publik kini menanti kejelasan resmi mengenai komponen mana yang rusak, lokasi pasti titik gangguan, serta bagaimana insiden di satu titik tersebut bisa melumpuhkan pasokan listrik hingga ke pulau tetangga.
[kang ajank nurdin]


