Berita Featured
Beranda / Featured / Sejarah di Balik Penamaan Enam Jalan Tokoh Pers di Kota Medan

Sejarah di Balik Penamaan Enam Jalan Tokoh Pers di Kota Medan

Pemerintah Kota Medan meresmikan nama tokoh Pers DR Drs H Ibrahim Sinik menjadi nama jalan di Kota Medan, Senin (27/02/2017). Jalan Ibrahim Sinik menggantikan sebahagian Jalan Sutrisno, mulai simpang Pasar Sukaramai hingga simpang Jalan Thamrin. (photo www.beritasumut.com)

TERASBATAM.ID — Sejarah kemerdekaan Republik Indonesia tidak hanya ditulis dengan darah dan mesiu, tetapi juga melalui tetesan tinta para kuli disket abad ke-20. Di tanah Deli, Kota Medan secara historis berdiri tegak sebagai salah satu “Ibu Kota Pers Indonesia”. Pada fajar pergerakan nasional awal abad ke-19 hingga 1920-an, Medan menjadi inkubator bagi lahirnya surat kabar kritis, jurnalis tangguh, dan tokoh pers bumiputera yang berani meruntuhkan hegemoni narasi kolonial Belanda.

Data Serikat Perusahaan Pers (SPS) mencatat, pada era pra-kemerdekaan Sumatra Utara dihuni oleh puluhan penerbitan lokal yang menjadi motor penggerak literasi perlawanan.

Sebagai bentuk penghormatan tertinggi terhadap kontribusi para ideolog bangsa ini, Pemerintah Kota Medan secara bertahap melakukan de-kolonisasi dan restrukturisasi tata ruang. Nama para legenda pers nasional dan lokal disematkan pada sejumlah ruas jalan penting, menggantikan nama-nama vegetasi atau nama umum. Langkah ini menjadi memorial hidup di ruang publik agar generasi muda tidak amnesia terhadap genetik kota mereka yang pernah menjadi episentrum pemikiran bebas.

Setidaknya, ada enam tokoh pers terkemuka yang kini abadi menjadi nama jalan di Kota Medan:

1. Jalan Djamaluddin Adinegoro: Kiblat Jurnalistik Modern

  • Lokasi: Kawasan Medan Timur (Akses strategis menuju gerbang tol).

    TNI AU Gelar Simulasi “Force Down” di Batam

  • Profil dan Data Historis: Lahir di Talawi, Sumatra Barat, 1904, Adinegoro adalah pionir sejati. Berdasarkan catatan sejarah pers, ia merupakan wartawan bumiputera pertama yang mempelajari ilmu jurnalistik, geografi, dan geopolitik secara formal di Jerman dan Belanda (1926–1930).

  • Kontribusi: Sekembalinya ke tanah air, Adinegoro memilih Medan sebagai basis perjuangannya dengan memimpin majalah Panji Islam dan surat kabar Pewarta Deli. Di bawah kendalinya, Pewarta Deli mencapai sirkulasi puncak dan menjadi rujukan intelektual karena analisis globalnya yang tajam. Guna menghormati dedikasinya, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) mengabadikan namanya sebagai Anugerah Adinegoro, penghargaan tertinggi bagi insan pers tanah air.

2. Jalan H. Mohammad Said: Penjaga Nyala Api Republik

  • Lokasi: Daerah Gaharu, Kecamatan Medan Timur (Menggantikan Jalan Durian).

  • Profil dan Data Historis: Tokoh pers pejuang dan politikus nasional. Bersama belahan jiwanya, Ny. Hj. Ani Idrus, ia mendirikan Harian Waspada pada 11 Januari 1947, tepat di tengah ketegangan menjelang Agresi Militer Belanda I.

  • Kontribusi: Di bawah ancaman sensor dan bayonet militer asing, Mohammad Said konsisten menjadikan cetakan kertasnya sebagai barikade pertahanan republik. Waspada menyuarakan maklumat kemerdekaan Indonesia ke luar negeri dan membakar semangat pemuda Sumatra. Perubahan nama Jalan Durian menjadi Jalan H. Mohammad Said menjadi bukti otentik pengakuan negara atas jurnalisme bersenjatakan kebenaran.

    10 Unit X-Ray Perkuat Deteksi Dini TBC di Kepri

3. Jalan Hj. Ani Idrus: Dobrakan Perempuan dari Ruang Redaksi

  • Lokasi: Pusat kota, membentang dari kawasan simpang Pelangi/Sisingamangaraja hingga area Stasiun Kereta Api Medan (Menggantikan Jalan Pandu).

  • Profil dan Data Historis: Co-Founder Harian Waspada dan salah satu wartawati pelopor Indonesia. Kiprahnya yang melintasi tiga zaman diakui secara global ketika wajahnya diabadikan sebagai Google Doodle nasional pada tahun 2019.

  • Kontribusi: Selama lebih dari 60 tahun berkarier, Ani Idrus menggunakan penanya secara vokal untuk emansipasi wanita, akses pendidikan, dan antikolonialisme. Di era ketika ruang redaksi didominasi maskulinitas, ia membuktikan bahwa perempuan Sumatra mampu mengelola manajemen media cetak berskala besar. Penetapan jalan protokol ini adalah simbol penghormatan atas runtuhnya sekat jender di dunia pers.

+-----------------------------------------------------------------------------------+
|               REKAPITULASI TOKOH PERS SEBAGAI NAMA JALAN DI MEDAN                 |
+------------------------------+---------------------------+------------------------+
| Nama Tokoh                   | Nama Jalan Lama / Lokasi  | Fokus Perjuangan       |
+------------------------------+---------------------------+------------------------+
| Djamaluddin Adinegoro        | Medan Timur (Akses Tol)   | Jurnalistik Modern     |
| H. Mohammad Said             | Jl. Durian                | Kedaulatan & NKRI      |
| Hj. Ani Idrus                | Jl. Pandu                 | Emansipasi & Pers Perempuan|
| Dr. Drs. H. Ibrahim Sinik    | Sebagian Jl. Sutrisno     | Pers Daerah & Konflik   |
| Parada Harahap               | Medan Barat / Helvetia    | Manajemen Pers Modern  |
| M.H. Thamrin                 | Pusat Kota / Protokol     | Kapital & Ideologi Pers|
+------------------------------+---------------------------+------------------------+

4. Jalan Dr. Drs. H. Ibrahim Sinik: Penjaga Stabilitas Melalui Pena

  • Lokasi: Memotong sebagian Jalan Sutrisno, dari simpang Pasar Sukaramai hingga simpang Jalan Thamrin, Medan Area.

  • Profil dan Data Historis: Diresmikan oleh Pemko Medan pada 27 Februari 2017. Ia adalah tokoh pers legendaris Sumatra Utara pasca-kemerdekaan, pendiri surat kabar harian Medan Pos (bermula dari majalah Sinar Pembangunan), serta Ketua PWI Sumut lintas periode.

    Perkuat Hilirisasi Timah, STANIA Gandeng Perusahaan Asal Singapura

  • Kontribusi: Ibrahim Sinik dikenal memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Pada masa transisi Orde Baru menuju Reformasi, tulisannya kerap kali menjadi instrumen peredam konflik sosial-politik dan perekat polarisasi di tingkat lokal. Ia juga bertindak sebagai mentor yang melahirkan ratusan jurnalis muda di Sumatra Utara.

5. Jalan Parada Harahap: Sang Konseptor Bisnis Media

  • Lokasi: Kawasan Medan Barat / Helvetia.

  • Profil dan Data Historis: Jurnalis kelahiran Panyabungan yang dijuluki dunia internasional sebagai “King of the Java Press” (Raja Pers Jawa). Gelar ini melekat karena keberhasilannya membangun imperium bisnis media massa cetak di Batavia, seperti Bintang Timoer dan Harian Komodo.

  • Kontribusi: Meski merajai industri di pulau Jawa, landasan berpikir kritis Parada berakar kuat dari bumi Sumatra. Ia merupakan jurnalis bumiputera pertama yang menyusun buku panduan taktik kewartawanan secara ilmiah dan terstruktur. Kehadiran namanya di jalanan Medan menegaskan bahwa salah satu peletak batu pertama manajemen pers modern Indonesia adalah putra daerah Sumatra Utara.

6. Jalan Mohammad Husni Thamrin: Arsitek Finansial Pers Pergerakan

  • Lokasi: Jalan protokol utama di jantung bisnis Kota Medan.

  • Profil dan Data Historis: Meski lebih kerap diidentifikasi sebagai pahlawan nasional dari Betawi, Thamrin memiliki peran krusial yang jarang disorot dalam silsilah pers nasional: ia adalah investor utama dan penyokong dana pergerakan media bumiputera.

  • Kontribusi: Tanpa sokongan finansial Thamrin, banyak surat kabar kritis yang akan gulung tikar akibat represi ekonomi dan aturan Persdelict (delik pers) oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Secara geografis, penamaan jalan ini di Medan sangat akurat karena pada masanya, koridor Jalan Thamrin dan sekitarnya merupakan distrik berkumpulnya kantor redaksi, mesin cetak bising, serta basis diskusi para intelektual pergerakan.

Upaya mengabadikan nama-nama tokoh pers ini bukan sekadar romantisasi masa lalu atau proyek kosmetik tata kota. Langkah geopolitik urban ini adalah penanda penting agar masyarakat—khususnya generasi Z dan Milenial di Kota Medan—senantiasa ingat bahwa tanah yang mereka pijak bukan sekadar pusat perdagangan, melainkan rahim dari kebebasan berekspresi nasional. Medan adalah benteng pertahanan pertama di mana kata-kata diubah menjadi senjata demi merebut sebuah kemerdekaan.