TERASBATAM.ID — Ketersediaan buku literasi anak bertema kebudayaan Melayu di Perpustakaan Pemerintah Kota Batam masih sangat terbatas. Bahan bacaan untuk anak usia PAUD hingga Sekolah Dasar yang mengangkat cerita rakyat, legenda, hingga asal-usul daerah di Kepulauan Riau nyaris tidak ditemukan.
Staf Perpustakaan Pemko Batam, Mutyamah, mengungkapkan bahwa koleksi buku anak yang berkaitan dengan budaya Melayu lokal masih didominasi cerita dari luar daerah, bahkan tokoh-tokoh luar negeri.
“Untuk buku anak-anak, khususnya yang memuat cerita budaya Melayu seperti legenda atau asal-usul nama daerah di Kepri, khususnya Batam, hampir tidak ada. Yang tersedia justru cerita dari luar daerah,” ujar Mutyamah di Ruang Registrasi Perpustakaan Pemko Batam, Rabu (1/4/2026).
Ia menjelaskan, buku-buku bertema Melayu memang tersedia, namun lebih banyak diperuntukkan bagi kalangan dewasa, mahasiswa, dan pembaca umum, bukan untuk anak-anak.

Menurut Mutyamah, salah satu penyebab utama minimnya literasi anak berbasis budaya Melayu adalah belum adanya penulis lokal yang secara konsisten mengangkat cerita-cerita daerah dalam bentuk buku. Selama ini, banyak cerita rakyat masih hidup dalam bentuk tutur lisan dan belum terdokumentasi dengan baik.
“Potensi penulis lokal sebenarnya ada, tapi belum berkembang. Untuk melahirkan penulis yang mampu membukukan cerita-cerita Melayu itu butuh proses panjang, tidak bisa instan. Perlu waktu bertahun-tahun dan dukungan dari berbagai pihak,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya peran lembaga pendidikan, khususnya universitas, dalam mendorong lahirnya penulis-penulis lokal melalui penguatan kajian budaya dan kearifan lokal.
“Harus ada dukungan dari universitas, mungkin lewat fakultas atau program studi yang fokus pada budaya. Dari situlah bisa lahir penulis yang mengangkat cerita-cerita lokal,” tambahnya.
Mutyamah menyebutkan bahwa pihak perpustakaan terus berupaya memperluas jaringan, termasuk menjalin kerja sama dengan sekolah dan berbagai institusi. Namun, kunjungan anak-anak ke perpustakaan umumnya masih bergantung pada pendampingan dari sekolah.
“Anak-anak biasanya datang bersama sekolah. Kalau datang sendiri cukup berisiko, jadi perlu pendampingan. Kami tetap terbuka untuk umum, dengan rata-rata kunjungan sekitar 50 orang per hari,” katanya.
Terkait ketersediaan buku, ia menyebutkan hal itu juga sangat bergantung pada distributor dan stok yang tersedia di pasaran.
Ke depan, Mutyamah berharap ada kolaborasi lintas daerah serumpun Melayu, seperti dengan Malaysia dan Singapura, untuk bersama-sama mengembangkan literasi berbasis budaya Melayu.
“Dengan konsep Melayu sebagai satu rumpun, kita sebenarnya bisa bekerja sama dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura untuk memperkaya literasi budaya,” ucapnya.
[kang ajank nurdin]


