TERASBATAM.ID — Sebanyak 30 jurnalis dari berbagai media massa mengikuti simulasi peliputan di daerah konflik yang digelar Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara (Dispenau) bekerja sama dengan Brigade Para Komando (Parako) 1 Pasukan Gerak Cepat (Pasgat) TNI AU. Latihan yang berlangsung di Markas Brigade Parako 1, Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat (12/6/2026) itu dirancang untuk memberikan pengalaman langsung kepada wartawan mengenai situasi yang berpotensi dihadapi saat bertugas di wilayah rawan konflik dan operasi militer.
Dalam kegiatan yang dikemas menyerupai kondisi nyata tersebut, para peserta mendapat pendampingan dari personel Brigade Parako 1 Pasgat yang berperan sebagai pengawal sekaligus instruktur lapangan. Mereka diperkenalkan pada berbagai prosedur keselamatan, mulai dari teknik bergerak di area berisiko tinggi hingga langkah-langkah perlindungan diri ketika berada di tengah situasi pertempuran.
“Kegiatan ini penting untuk membekali wartawan dengan kemampuan dasar menjaga keselamatan diri tanpa mengabaikan tugas jurnalistik di lapangan,” ujar salah satu perwakilan penyelenggara.
Tidak sekadar menerima teori, para jurnalis juga diajak langsung mengikuti simulasi pertempuran jarak dekat dan patroli hutan. Dalam skenario yang dibuat dinamis, peserta diajak memahami cara berkoordinasi dengan aparat keamanan, mengenali potensi ancaman, serta mengambil keputusan cepat dalam situasi yang berubah-ubah.
Latihan ini menjadi bagian dari upaya peningkatan profesionalisme jurnalis di tengah meningkatnya kompleksitas tugas peliputan di daerah konflik. Seorang wartawan yang menjadi peserta mengaku mendapatkan perspektif baru tentang pentingnya keselamatan di lapangan.
“Selama ini kami hanya melihat dari sisi pemberitaan. Setelah menjalani simulasi ini, kami lebih memahami risiko yang dihadapi aparat dan bagaimana seharusnya kami bersikap di lokasi kejadian,” tuturnya.
Penyelenggara berharap kegiatan serupa dapat terus digelar secara berkala. Dengan pemahaman yang lebih baik terhadap prosedur keamanan dan karakteristik operasi lapangan, wartawan diharapkan mampu menjalankan tugas peliputan secara efektif, akurat, dan tetap mengutamakan keselamatan selama bertugas.
“Kami ingin memastikan bahwa jurnalis tidak hanya terlatih secara teknis jurnalistik, tetapi juga memiliki kesiapsiagaan fisik dan mental ketika berada di daerah rawan,” pungkas penyelenggara.


