Menemukan Kembali Pesona Buku Fisik di Toko Bekas Mang Anton

Berburu Buku Bekas dari Novel Fredy S hingga Enny Arrow

TERASBATAM.ID: Di tengah gemuruh teknologi literasi berbasis elektronik, sebuah fenomena menarik mulai muncul di kota Batam. Toko Bekas Mang Anton, seorang penjual buku bekas, menjadi saksi akan kebangkitan minat membaca buku fisik, yang turut memicu peningkatan pencarian buku klasik oleh para pecinta literasi.

Menurut Anton, permintaan akan buku lawas yang tidak lagi tersedia di pasaran semakin meningkat. Meskipun buku elektronik (E-book) telah melanda dunia literasi dengan kehadiran format PDF dan e-book, namun buku fisik kembali diminati, terutama oleh sebagian generasi Z yang mulai menggemari gerakan literasi yang digaungkan oleh aktivis luar negeri.

Namun, di balik antusiasme tersebut, Anton menghadapi tantangan baru dalam menyediakan buku-buku tertentu yang sudah langka. Meskipun berupaya menjalin kerjasama dengan komunitas buku bekas di beberapa kota besar di Indonesia, termasuk Jakarta, Tangerang, Bandung, Jogja, dan Surabaya, namun buku-buku yang langka tetap sulit ditemukan.

Buku-buku yang paling diminati antara lain adalah karya sastra, sejarah politik, dan budaya. Di kalangan remaja dan dewasa, novel-novel dengan tema motivasi, misteri, perjalanan, asmara, dan cinta masih menjadi favorit. Karya-karya seperti “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata, seri “Harry Potter”, novel-novel karya Tere Liye, serta karya-karya terjemahan dari Agatha Christie masih memikat banyak pembaca.

Menariknya, permintaan juga terkadang mencakup novel-novel lawas dari dalam negeri, seperti karya Fredy S, Mira W, dan Enny Arrow, yang mungkin menjadi sarana nostalgia bagi beberapa pembaca.

Anton menegaskan bahwa pengalaman membaca buku fisik memiliki kenikmatan yang berbeda, tidak dapat disaingi oleh pengalaman membaca melalui gadget atau komputer. Terlebih lagi, ia mencatat bahwa minat membaca buku fisik cenderung meningkat saat bulan Ramadan, ketika orang cenderung lebih banyak beraktivitas di rumah.

Meskipun terdapat tantangan dari perkembangan teknologi dan kehadiran layar digital, antusiasme masyarakat terhadap buku fisik tetap tinggi. Ini tidak hanya disebabkan oleh kebutuhan untuk menyela dari layar digital, tetapi juga oleh keinginan untuk menikmati pengalaman klasik dan autentik yang ditawarkan oleh buku fisik.

Meskipun merasa tertekan dengan persaingan dari teknologi AI, Anton merasa terhibur dengan kunjungan pembeli buku, termasuk dari luar negeri seperti Malaysia dan Singapura. Bahkan, beberapa pengarang buku yang sering ia jual juga turut mengunjungi tokonya bersama komunitas sastra setempat.

Sementara itu, Fahmi, seorang pengunjung toko dan guru privat, berencana untuk membuka toko buku bekas di Tanjung Pinang, terinspirasi oleh kesuksesan Mang Anton. Hal ini sejalan dengan upayanya dalam menggalakkan minat membaca buku fisik di tengah arus literasi berbasis elektronik.

Sebagai cerminan dari antusiasme masyarakat terhadap buku fisik, pertumbuhan pembelian buku, termasuk komik, terus meningkat. Inilah bukti bahwa di tengah gempuran teknologi, cinta terhadap klasik tetap hidup dan bersemi, menandakan bahwa cerita-cerita di balik halaman buku fisik masih memiliki daya tarik yang tak tergantikan.