TERASBATAM.ID— Inflasi di Kepulauan Riau pada Maret 2026 terjaga dalam rentang sasaran. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Harga Konsumen (IHK) Kepri tercatat mengalami inflasi sebesar 0,08 persen secara bulanan (month to month/mtm), lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 0,44 persen.
Secara tahunan (year on year/yoy), inflasi Kepri tercatat sebesar 3,23 persen, juga lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 3,54 persen. Capaian ini bahkan lebih rendah dari inflasi nasional yang berada di angka 3,48 persen. Kepri menjadi provinsi dengan inflasi tahunan terendah kelima se-wilayah Sumatera.
Inflasi secara bulanan terjadi di Kota Batam dan Kabupaten Karimun, masing-masing tercatat 0,11 persen dan 0,56 persen. Sementara itu, Kota Tanjungpinang justru mengalami deflasi 0,37 persen.
Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi di Maret 2026 terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,48 persen dengan andil 0,13 persen. Kenaikan harga udang basah, bayam, dan daging ayam ras menjadi penyebab utama seiring dengan meningkatnya permintaan di tengah Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri.
Inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh kelompok perawatan pribadi dan jasa yang mengalami deflasi 1,12 persen. Deflasi ini utamanya disebabkan oleh penurunan harga emas perhiasan sejalan dengan penguatan dolar Amerika Serikat serta meningkatnya ekspektasi suku bunga tinggi.
Kelompok transportasi juga ikut mengalami deflasi 0,38 persen. Penurunan tarif angkutan udara dan laut terjadi seiring dengan berlakunya kebijakan stimulus ekonomi diskon transportasi pada periode HBKN Idulfitri.
Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Kepri terus menjaga sinergi melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS). Berbagai upaya stabilisasi harga dilakukan pada Maret 2026, antara lain High Level Meeting TPID, publikasi iklan layanan masyarakat, edukasi inflasi, serta operasi pasar murah serentak.
Memasuki April 2026, sejumlah faktor pendorong inflasi perlu diwaspadai, antara lain prediksi BMKG terkait kondisi El Nino lemah hingga moderat yang diprakirakan berlangsung hingga semester II 2026, base effect normalisasi tarif transportasi, serta dampak lanjutan kenaikan harga komoditas energi global.
Di sisi lain, normalisasi harga emas perhiasan dan pergeseran periode panen raya komoditas pangan diperkirakan dapat menahan tekanan inflasi ke depan.
Bank Indonesia bersama TPID berkomitmen terus memperkuat sinergi agar tekanan inflasi pada 2026 tetap terkendali dalam rentang sasaran 2,5±1 persen.


