TERASBATAM.ID — Pemadaman listrik massal (blackout) yang melanda Kota Batam selama 12 jam pada Senin (12/10/2026) diperkirakan menelan kerugian ekonomi fantastis mencapai Rp 233,9 miliar. Selain menghentikan operasional industri manufaktur dan sektor perdagangan, insiden ini memicu kekacauan layanan publik, kelangkaan air bersih, hingga melumpuhkan jaringan komunikasi.
Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Batam sekaligus Wakil Ketua Kadin Kota Batam, Suyono Saputra, mengungkapkan angka kerugian tersebut dihitung secara konservatif berdasarkan potensi PDRB Batam yang mencapai Rp 200 triliun per tahun atau sekitar Rp 548 miliar per hari.
“Berdasarkan hitungan dari ISEI Batam, dampak akibat blackout 12 jam listrik di Batam telah berdampak pada kerugian sekitar Rp 233,9 miliar. Produksi hilang di sektor manufaktur menyumbang angka terbesar yaitu Rp 107,4 miliar, karena 56 persen PDRB Batam berasal dari manufaktur. Walaupun mesin mati, upah buruh tetap dibayar sehingga kerugian tetap terjadi. Contoh satu pabrik dengan 500 orang, 12 jam tidak produksi itu Rp 300 juta sampai Rp 400 juta hilang,” ujar Suyono Saputra, Selasa (13/10/2026).
Suyono menegaskan, dasar kalkulasi ini juga diperkuat oleh laporan dari para pelaku dunia usaha. Hilangnya produksi di sektor jasa, mal, hotel, serta pelabuhan menyumbang kerugian sebesar Rp 60,3 miliar. Kerugian tak terlihat lainnya mencakup biaya pembuangan (scrap) bahan baku rusak dan proses pemulihan teknis yang menyedot dana hingga Rp 32,2 miliar.
“Pabrik elektronik yang produknya sedang di-oven 200 derajat pas mati listrik, langsung jadi sampah. Clean room harus steril ulang delapan jam pakai chemical, ini biaya tambahan. Semua pabrik menghentikan produksi terutama sif satu dan dua. Pemulihan mestinya dalam satu hingga dua hari jika tidak ada gardu yang terbakar atau jaringan transmisi yang putus,” jelas Suyono.
Kelumpuhan sektor manufaktur ini dipicu oleh tingginya ketergantungan kawasan industri terhadap jaringan PLN Batam.
“Kawasan yang produksi listrik sendiri relatif tidak terdampak, tapi itu jumlahnya tak sampai 200 perusahaan, dibandingkan 29 kawasan industri lain yang bergantung dengan PLN Batam dan di dalamnya ada 1.000 perusahaan,” tegasnya.


