TERASBATAM.ID – Upaya deteksi dini anemia di kalangan remaja putri di Kota Batam menemukan fakta baru. Sepanjang tahun 2025, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam mencatat sebanyak 739 remaja putri teridentifikasi mengalami anemia, atau sekitar 3,1 persen dari total jumlah yang diperiksa.
Angka tersebut diperoleh dari hasil skrining kesehatan yang dilakukan secara aktif di sekolah-sekolah menengah pertama dan atas, serta melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di puskesmas-puskesmas yang tersebar di Kota Batam. Pemeriksaan menggunakan metode pengukuran kadar hemoglobin (Hb) dalam darah.
Kepala Dinkes Batam, Didi Kusmarjadi, menjelaskan bahwa skrining massal ini merupakan bagian dari strategi pemerintah kota untuk mencegah dampak buruk anemia terhadap kesehatan dan produktivitas remaja.
“Pemeriksaan Hb kami lakukan di sekolah-sekolah dan juga melalui program CKG. Dari situ terdata 739 remaja putri mengalami anemia dan semuanya sudah diberikan pengobatan sesuai standar,” ujar Didi, Minggu (1/3/2026).
Meski secara kuantitas mencapai ratusan, angka 3,1 persen di Batam ini relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan prevalensi anemia nasional. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, prevalensi anemia pada remaja putri secara nasional pernah mencapai 48,9 persen pada 2018. Sementara data terbaru tahun 2025 mencatat sekitar 7,5 juta penduduk Indonesia dari berbagai kelompok usia menderita anemia.
“Angka kita masih di bawah rata-rata nasional, tetapi ini bukan alasan untuk lengah. Justru kami terus memperkuat deteksi dini agar kasus-kasus baru bisa segera tertangani,” tegas Didi.
Setiap remaja yang terdeteksi dengan kadar Hb rendah langsung mendapatkan intervensi berupa pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) dengan dosis satu hingga dua tablet per hari selama dua hingga empat minggu. Dinkes Batam juga melakukan evaluasi berkala setiap dua minggu untuk memantau perkembangan kadar Hb para remaja tersebut. Jika tidak menunjukkan perbaikan, pasien akan dirujuk ke fasilitas kesehatan lanjutan.
Meskipun program berjalan, Didi mengakui masih ada tantangan dalam hal kepatuhan konsumsi TTD di kalangan remaja putri.
“Tantangan kami bukan hanya menemukan kasus, tapi memastikan remaja mau rutin minum TTD. Masih ada yang takut mual, khawatir efek samping, atau percaya mitos yang tidak benar,” katanya.
Untuk mengatasi hal tersebut, Dinkes Batam terus memperbaiki distribusi TTD dan memperkuat pengawasan di sekolah dengan melibatkan peran guru. Dukungan orang tua juga dinilai krusial dalam memastikan remaja putri memahami pentingnya pencegahan anemia.
Didi menambahkan bahwa anemia tidak hanya berdampak pada kondisi fisik jangka pendek seperti lemas, pusing, dan mudah pingsan, tetapi juga dapat mempengaruhi kesehatan reproduksi di masa depan.
“Karena itu pencegahan sejak usia sekolah sangat penting. Kami ingin remaja Batam tumbuh sehat dan produktif,” pungkasnya.


