TERASBATAM.ID – Eskalasi konflik bersenjata di Timur Tengah mulai memukul sektor energi di Asia Timur. Ribuan warga Hong Kong dilaporkan memadati stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di wilayah daratan China demi mendapatkan harga bensin yang lebih terjangkau. Fenomena ini terjadi setelah harga bahan bakar di Hong Kong melonjak tajam hingga menyentuh angka 32,29 dollar Hong Kong atau sekitar Rp 65.000 per liter.
Lonjakan harga ini merupakan dampak langsung dari ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran sejak akhir Februari lalu. Harga bensin di wilayah administratif khusus (SAR) tersebut kini tercatat tiga kali lipat lebih mahal dibandingkan harga di kota-kota tetangga di daratan China.
Laporan dari The Standard menunjukkan antrean kendaraan yang mengular di berbagai stasiun pengisian bahan bakar di kota-kota yang berbatasan langsung dengan Hong Kong. Seorang pengemudi mengaku harus menunggu lebih dari 30 menit hanya untuk bisa memasuki area SPBU. Di beberapa lokasi, stok bensin oktan rendah (92-octane) dilaporkan habis total akibat lonjakan permintaan yang mendadak.
Ringo Lee, Presiden Kehormatan Asosiasi Otomotif Hong Kong-China, memperkirakan tren “refuelling” lintas batas ini akan menjadi rutinitas mingguan bagi pemilik mobil pribadi. Namun, ia memperingatkan bahwa sektor transportasi publik dan logistik di Hong Kong tidak memiliki kemewahan serupa.
“Kendaraan komersial yang menggunakan diesel tidak diizinkan menyeberang perbatasan. Artinya, biaya operasional mereka akan tetap tinggi dan beban tersebut pasti akan diteruskan kepada konsumen melalui kenaikan tarif transportasi dan harga barang,” ujar Lee.
Kekhawatiran di Selat Hormuz
Situasi energi global kian tidak menentu setelah Iran mulai merealisasikan ancamannya untuk menutup Selat Hormuz, jalur krusial distribusi minyak dunia. Laporan terbaru menyebutkan adanya ranjau laut yang dipasang di selat tersebut. Sebuah kapal tanker berbendera Thailand dilaporkan terkena ledakan, mengakibatkan tiga pelaut dinyatakan hilang.
Kondisi ini memicu kepanikan pasar. Di Singapura, harga bensin oktan 95 telah merangkak naik ke angka 3,40 dollar Singapura (sekitar Rp 39.500) per liter, naik signifikan dari posisi 2,77 dollar Singapura pada akhir Februari.
Menanggapi krisis ini, para tokoh otomotif dan pengamat ekonomi mendesak Pemerintah Hong Kong untuk segera mengambil langkah taktis, mulai dari pengurangan pajak bahan bakar hingga pengawasan ketat terhadap margin keuntungan perusahaan minyak guna memastikan transparansi harga.
Di daratan China sendiri, meski pemerintah telah menaikkan pajak bahan bakar dalam beberapa hari terakhir, warga tetap memilih untuk mengantre karena ekspektasi bahwa harga akan terus melambung seiring belum adanya tanda-tanda deeskalasi di Timur Tengah. (AFP/REUTERS/MOTHERSHIP)


