TERASBATAM.ID – Sebuah pengalaman sinematik yang kontras terjadi di studio XXI Mega Mall Batam pekan ini. Pada pemutaran perdana film adaptasi resmi Hollywood The Intern versi Korea Selatan, suasana bioskop terasa amat lengang—hanya terisi oleh dua kursi penonton. Padahal, film ini membawa interpretasi segar yang sarat makna kehidupan.
Dibandingkan versi aslinya garapan Nancy Meyers (2015) yang dibintangi aktor legendaris Robert De Niro (Ben Whittaker) bersama Anne Hathaway (Jules Ostin), versi Korea ini hadir dengan tempo dan pendekatan rasa yang berbeda. Jika The Intern versi Hollywood menyajikan alur cerita berkecepatan khas komedi-drama Amerika yang praktis, adaptasi Korea memilih ritme yang lebih lambat dan mengalun (slow-paced).
Pendekatan Gen Z dan Jajaran Bintang Populer
Perbedaan ritme tersebut bukan tanpa alasan. Versi Korea secara sengaja menyasar dinamika sosial dan mentalitas generasi muda saat ini, khususnya Gen Z. Isu tekanan karier di industri kreatif digital, pencarian identitas, hingga kerentanan emosional anak muda dipotret secara lebih kental dan relasional.
Selain itu, kehadiran jajaran bintang Korea ternama memberi warna yang jauh lebih rame dan hidup:
- Choi Min-sik sebagai Kim Gi-ho — Aktor veteran ini mengambil alih peran intern senior (yang dulu dimainkan Robert De Niro). Gi-ho adalah pensiunan berpengalaman 37 tahun yang mencoba peruntungan baru menjadi magang di startup mode.
- Han So-hee sebagai Lee Seon-woo — Mengisi peran CEO muda ambisius (versi Korea dari karakter Anne Hathaway) yang sukses membangun startup mode WOO22, namun kelelahan memikul beban pekerjaan dan dinamika personal.
- Kim Jun-han sebagai Gu Yeong-hwan — Vice CEO WOO22 yang berorientasi pada hasil, realistis, dan menjadi tangan kanan Seon-woo.
- Ryu Hye-young sebagai Choi Min-ah — Ketua tim manajemen pendukung yang sangat diandalkan namun terobsesi dengan teknologi AI.
- Turut didukung oleh Kim Geum-soon (sebagai Kim Hui-suk) serta Kim Yo-han (sebagai Park Ju-seong) yang semakin menyemarakkan dinamika dunia kerja antar-generasi di dalam kantor rintisan tersebut.
Senjata Kehidupan di Momen Akhir
Sayangnya, jumlah penonton yang terbilang amat minim di bioskop Kota Batam membuat mutiara dalam film ini rentan terlewatkan. Padahal, nilai jual utama film ini justru tertuang pada paruh akhir cerita.
Dialog emosional di momen-momen krusial antara sang magang senior Kim Gi-ho (Choi Min-sik) dan pimpinan mudanya Lee Seon-woo (Han So-hee) menyajikan kedalaman filosofis yang luar biasa. Tutur kata serta pertukaran pandangan di antara keduanya tidak sekadar menjadi penyelesaian konflik cerita, melainkan memuat pesan moral dan refleksi empati yang sangat bernilai untuk dijadikan “senjata” serta pegangan dalam menghadapi realitas kehidupan sehari-hari.


