TERASBATAM.ID — PT PLN Batam akhirnya buka suara memberikan klarifikasi resmi terkait insiden pemadaman listrik secara menyeluruh (blackout) yang melumpuhkan Kota Batam selama hampir 19 jam pada Senin, 12 Oktober 2026.
Dalam konferensi pers yang digelar di Aula Kantor PLN Batam Lantai 5, Minggu (18/10/2026) sore, Direktur Utama PLN Batam Kwin Fo mengakui adanya sejumlah keanehan di Gardu Induk Sungai Harapan—lokasi yang menjadi titik awal timbulnya gangguan—dan kini kasus tersebut telah ditangani oleh pihak kepolisian.
Di sisi lain, dalam sesi tanya jawab yang dipandu oleh Sekretaris Perusahaan Rudi Antono, Kwin Fo secara tegas membantah isu yang beredar di masyarakat mengenai adanya keterkaitan antara blackout Batam dengan proses pengujian (commissioning) pusat data (data centre). Isu tersebut mencuat menyusul insiden pemadaman serupa yang terjadi di Johor Bahru, Malaysia, serta peristiwa sebelumnya di Sri Lanka.
“Saya tidak akan menjawab yang Sri Lanka atau Johor. Saya akan menjawab Batam saja. Untuk Batam, pemadaman yang meluas kemarin itu sama sekali tidak disangkutpautkan dengan data centre,” tegas Kwin.
Kwin mengaku sempat mendengar rumor bahwa pemadaman masif tersebut dipicu oleh penolakan beban daya besar saat proses commissioning fasilitas data centre baru. Namun, ia memastikan kabar burung tersebut sama sekali tidak berdasar.
“Informasi itu sama sekali tidak benar. Jadi tidak ada hubungannya dengan data centre,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa manajemen PLN Batam berfokus penuh pada penanganan gangguan teknis internal di sistem kelistrikan Batam dan menolak menyambungkan peristiwa lokal ini dengan gangguan listrik di negara-negara tetangga.
“Karena kalau kita lihat hari Jumat terjadi blackout di Johor, lalu direntetkan lagi ke belakang di Sri Lanka. Tapi yang bisa saya pastikan, blackout di Batam tidak ada kaitannya dengan industri data centre yang sedang dibangun di sini,” pungkas Kwin.


