Berita
Beranda / Berita / PLN Batam Akui SOP Beralih dan CCTV Digeser Sebelum Blackout 19 Jam

PLN Batam Akui SOP Beralih dan CCTV Digeser Sebelum Blackout 19 Jam

Direktur Utama PT PLN Batam, Kwin Fo (kelima dari kiri), didampingi jajaran manajemen saat menggelar konferensi pers terkait penanganan gangguan kelistrikan (*blackout*) di Batam, Minggu (18/10/2026).

TERASBATAM.ID — PT PLN Batam akhirnya memberikan penjelasan resmi terkait insiden pemadaman listrik total (blackout) yang melumpuhkan Kota Batam selama hampir 19 jam pada Senin (12/10/2026). Dalam konferensi pers yang digelar di kantornya pada Minggu (18/10/2026) sore, Direktur Utama PLN Batam, Kwin Fo, membeberkan sejumlah kejanggalan teknis di Gardu Induk Sungai Harapan—titik awal gangguan—yang kini resmi ditangani pihak kepolisian.

“Atas nama manajemen PLN Batam, kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada pelanggan dan masyarakat atas gangguan kelistrikan yang terjadi,” ujar Kwin dalam paparan resminya.

Ia menjelaskan bahwa peristiwa blackout bermula pada pukul 06.28 WIB akibat flash over atau percikan api pada salah satu trafo di Gardu Induk Sungai Harapan. Berdasarkan uji fungsi bersama tim Polda Kepri dan Bareskrim Polri pada Jumat (16/10/2026), seluruh peralatan proteksi seperti circuit breaker 150 kV dan 20 kV, relay, serta catu daya DC sebenarnya dalam keadaan normal. Peralatan proteksi tersebut idealnya berfungsi melokalisasi gangguan hanya di lokasi awal, namun kegagalan isolasi saat insiden membuat dampaknya meluas hingga membendung 10 Gardu Induk lainnya.

Manajemen PLN Batam mencatat tiga temuan krusial di lapangan. Pertama, kawat listrik pada pagar BRC yang semestinya aktif untuk menghalau hewan liar ternyata dalam posisi mati. Kedua, bangkai seekor monyet dengan luka bakar baru ditemukan di bawah trafo pada pukul 10.30 WIB, padahal pemeriksaan area pada pukul 07.00 WIB menyatakan lokasi tersebut bersih. Ketiga, kamera pengawas (CCTV) yang fokus menyorot trafo bermasalah diketahui telah diubah arahnya (panning) pada Minggu (11/10/2026) pukul 18.43 WIB—sehari sebelum insiden terjadi.

“ada kamera CCTV yang bergeser, pagar yang dilengkapi aliran listrik untuk mencegah hewan liar juga off, penyelidikan lebih lanjut kami serahkan kepada pihak kepolisian. Biar kepolisian yang akan mengungkapnya,” ungkap Kwin.

Disorot Pasca-Blackout, Kwin Fo Buka Suara Soal Latar Belakang Dirinya

Saat konferensi pers, Kwin sempat memperlihatkan rekaman CCTV dari sudut pandang kamera yang telah digeser tersebut. Akibatnya, rekaman video hanya menangkap momen flash over tanpa memperlihatkan penyebab utama pemicu percikan api. Kwin menegaskan mati kawat listrik pengusir hewan merupakan pelanggaran standar operasional prosedur (SOP) dan menyerahkan penanganan indikasi kelalaian ini sepenuhnya kepada Polda Kepri serta Bareskrim Polri.

Kronologi Pemulihan dan Defisit Cadangan Daya

Sistem kelistrikan Batam roboh setelah kegagalan circuit breaker membuat gangguan merambat ke jaringan transmisi 150 kV dan memicu lepasnya Pembangkit Tanjung Uncang berkapasitas 220 MW. Pembangkit lain yang beroperasi gagal menutupi defisit daya, sehingga memicu efek domino runtuhnya sistem pada pukul 06.37 WIB.

Proses pemulihan dilakukan secara bertahap mulai dari penormalan jaringan 20 kV hingga pengisian tegangan (line charging) 150 kV. Sekitar 60 persen wilayah Batam kembali menyala pada pukul 22.00 WIB dan pulih total mendekati 100 persen pada Selasa (13/10/2026) pukul 01.00 WIB—tepat 19 jam sejak titik awal gangguan. Sementara itu, wilayah Pulau Bintan dan Tanjungpinang baru mendapatkan pasokan listrik penuh pada Rabu (14/10/2026) sore karena proses transfer daya harus dilakukan secara bertahap sebesar 2 MW per interval demi menjaga stabilitas frekuensi.

“Kami memohon maaf kepada teman-teman di Bintan dan Tanjungpinang atas keterlambatan. Baik Batam, Bintan, Tanjungpinang, perlakuan kami sama saja,” kata Kwin.

HJB ke-197: Pemko Batam Bidik Rekor MURI Nasi Besar di Tengah Bayang-Bayang Kabut Asap

Ia mengungkapkan, kapasitas pasok PLN Batam saat ini sebesar 930 MW dengan beban puncak berkisar 780–790 MW. Kondisi ini membuat cadangan daya (risk margin) berada di angka sekitar 180 MW atau mendekati 20 persen—di bawah standar ideal keandalan 25–30 persen. Pelepasan beban mendadak sebesar 220 MW seketika melampaui batas kemampuan cadangan daya yang ada. Sebagai langkah antisipasi, PLN Batam berencana membangun pembangkit baru dan menyiagakan Battery Energy Storage System (BESS) berkapasitas besar.

Skema Kompensasi Pelanggan

Pada kesempatan yang sama, Direktur Bisnis dan Pengembangan Usaha PT PLN Batam, Raditya Surya Danu, menjelaskan bahwa kompensasi akan diberikan kepada masyarakat terdampak. Pelanggan layanan reguler berhak mendapatkan pemotongan sebesar 10 persen dari biaya beban sesuai aturan Peraturan Gubernur Nomor 1 Tahun 2017.

 

“Tidak perlu datang ke kantor PLN. Kompensasi akan diterima otomatis,” jelas Danu. Potongan tersebut akan langsung dikreditkan pada rekening pemakaian Oktober yang dibayarkan pada November mendatang. Adapun untuk pelanggan layanan khusus, kompensasi berkisar antara 15 hingga 20 persen disesuaikan dengan skema kesepakatan bisnis.

Pemko dan DPRD Batam Bentuk Pansus Dua Ranperda Strategis

 

Hingga konferensi pers ditutup, PLN Batam menyatakan masih belum menghitung total nilai kerugian internal perusahaan maupun dampak kerugian ekonomi daerah akibat blackout selama 19 jam tersebut dan baru akan melakukan kalkulasi pada pekan depan.