TERASBATAM.ID – Federasi Serikat Pekerja Media (FSPM) Independen menyoroti kondisi pekerja media yang masih rentan menjelang peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2026. Pekerja dinilai menghadapi persoalan serius, mulai dari upah rendah, pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak, hingga ancaman kekerasan saat menjalankan tugas jurnalistik.
Dalam siaran tertulisnya, FSPM Independen menyebut relasi kerja di industri media masih timpang. Perusahaan dinilai menuntut produktivitas tinggi tanpa diimbangi jaminan kesejahteraan dan perlindungan yang memadai. Data Dewan Pers mencatat, sepanjang 2023–2024 sedikitnya 1.200 pekerja media terdampak PHK. Sementara Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mencatat lebih dari 800 pekerja media mengalami PHK sejak 2024 hingga pertengahan 2025.
Ketua FSPM Independen, Aisha Shaidra, menyatakan kondisi ini merupakan krisis struktural dalam industri media.
“Pekerja media masih berada dalam posisi rentan, baik dari sisi ekonomi maupun perlindungan kerja. Kondisi ini membutuhkan respons kolektif yang lebih kuat,” ujarnya seperti dikutip dari press release yang diterbitkan AJI, Kamis (30/04/2026).
Selain persoalan ekonomi, aspek keselamatan jurnalis juga menjadi perhatian. AJI mencatat 73 kasus kekerasan terhadap jurnalis pada 2024 dan meningkat menjadi 89 kasus pada 2025, termasuk kekerasan fisik, intimidasi, hingga kriminalisasi. FSPM Independen menilai kondisi tersebut berdampak tidak hanya pada pekerja, tetapi juga terhadap kebebasan pers dan hak publik atas informasi.
Karena itu, FSPM mengajak pekerja media memperkuat serikat sebagai langkah kolektif. Dari hampir 2.000 perusahaan media di Indonesia, kurang dari 50 yang memiliki serikat pekerja. Dalam momentum May Day 2026, FSPM Independen menyampaikan sejumlah tuntutan, di antaranya penghentian PHK massal, penghapusan sistem kerja merugikan seperti outsourcing, serta jaminan upah layak dan kebebasan berserikat.
“May Day 2026 menjadi momentum memperkuat solidaritas pekerja media dan mendorong kebijakan ketenagakerjaan yang lebih adil,” ucap Aisha.
[press release/kang ajank nurdin]


