TERASBATAM.ID – Menjelang waktu berbuka puasa, Gubernur Kepulauan Riau H Ansar Ahmad memilih kegiatan yang tak biasa. Ia memimpin langsung aksi gotong royong membersihkan sampah di perairan depan pelantaran Balai Adat Melayu, Pulau Penyengat, Minggu (1/3/2026) sore.
Kegiatan yang dikemas sebagai momen ngabuburit ini diikuti oleh Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri Raja Al-Hafiz serta sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau. Mereka bersama-sama memungut sampah yang mengapung di sekitar kawasan bersejarah tersebut.
Fokus utama gotong royong adalah sampah plastik yang dinilai menjadi ancaman serius bagi ekosistem laut. Selain merusak biota bawah laut, tumpukan sampah juga mengganggu pemandangan dan kenyamanan wisatawan yang berkunjung ke Pulau Penyengat, yang dikenal sebagai ikon sejarah dan kebudayaan Melayu.
Gubernur Ansar menegaskan bahwa kebersihan lingkungan, terutama laut, adalah tanggung jawab bersama. Ia mengingatkan masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan, apalagi ke laut.
“Jangan buang sampah sembarangan, apalagi ke laut. Sampah plastik sangat berbahaya karena bisa merusak ekosistem laut dan berdampak jangka panjang bagi kehidupan kita,” tegas Ansar di sela-sela kegiatan.
Menurutnya, keindahan Pulau Penyengat sebagai destinasi wisata religi dan budaya harus dijaga secara kolektif. Pemerintah, kata dia, tidak bisa bekerja sendiri tanpa partisipasi aktif masyarakat.
“Kita ingin Penyengat tetap bersih, indah, dan nyaman dikunjungi. Ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi tanggung jawab kita semua sebagai masyarakat Kepri,” ujarnya.
Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan budaya bersih sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari. Menurutnya, aksi sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan akan berdampak besar bagi kelestarian lingkungan di masa depan.
“Kalau kita kompak menjaga lingkungan, insya Allah laut kita tetap lestari dan generasi mendatang masih bisa merasakan manfaatnya. Mari kita jaga Kepri dengan tindakan nyata, dimulai dari hal sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan,” tutup Ansar.
Kegiatan gotong royong ini berlangsung hingga menjelang azan Magrib, dan ditutup dengan berbuka puasa bersama di lokasi. Suasana kebersamaan dan kepedulian terhadap lingkungan mewarnai sore itu di Pulau Penyengat.


