Museum Raja Ali Haji Batam Ungkap Kerajaan Tumasek dari Pulau Galang

  • Bagikan
Cogan

TerasBatam.id: Memperingat Hari Museum Nasioanl tercatat tentang sejarah Kerajaan Tumasek di semenanjung Malaka yang memiliki keterkaitan dengan Ketemengguan di Bulang, Pulau Galang, Batam. Catatan historis tersebut tertuang dalam sebuah buku peninggalan dari zaman lampau yang masih memerlukan verifikasi lebih lanjut oleh ahli sejarah.

Wakil Walikota Batam Amsakar Achmad dalam diskusi terbatas dengan para jurnalis dalam rangkaian memperingati Hari Museum Nasional yang jatuh pada tangga;l 12 Oktober 2021 mengatakan, Batam dengan posisi yang strategis telah menempatkannya sebagai penghubung tiga wilayah, yaitu Singapura dan Malaysia dan memiliki peran sentral sebagai salah satu tonggak penentu peradaban Melayu Kesultanan Riau Lingga Johor dan Pahang.

Menurut Amsakar, oleh karena itu pengadaan koleksi  di museum Raja Ali Haji Batam sebagai bukti    seperti artepak, manuskrip , maklumat – maklumatdan benda maupun prasasti tentu dibutuhkan  peran penting pemerintah dengan melibatkan masyarakat ,Tokoh ataupun Zuriat keturunan pelaku Sejarah dalam melestarikan Sejarah sebagai edukasi terhadap  generasi muda agar  tidak pupus dan hilang diterpa jaman.

“kita harapkan bagaimana ke depan segala upaya untuk menggali seluruh perjalanan kota ini (Batam) kontribusi daerah terhadap Kepri atau Batam, Indonesia, Singapura, Malaysia  digali terus.” Kata Amsakar Achmad saat memperingari Hari Museum Nasional di Museum Raja Ali Haji di dataran Engkau Putri.

Dalam penggalian peninggalan sejarah di Pulau Batam Perintah kota  bersama Dinas Pariwasata dan Kebudayaan melaui Tim Unit Pelaksana Teknis (UPT) museum Raja Ali Haji (RAH) kota  Batam dalam pengadaan koleksi – koleksi museum akan melibatkan atau bekerjasama dengan masyarakat dan tokoh -tokoh yang milki koleksi benda – benda sejarah Melayu  Kesultanan Riau Lingga, Johor, Pahang.

“Upaya membangkitkan masyrakat terhadap budaya dan sejarah pemko telah dibentuk

Kelompok yang tugasnya mencari artepak itu atau benda catatan itu ada namya tim cruator kita punya, mereka inilah yang bergerak diberbagai wilayah di kecaman kita, menemui tokoh,” kata Pria Kelahiran Lingga.

Menurutnya initentu menjadi tugas bersama masyarakat Batam. Peran pentingnya musium itu mencerminkan kebudayaan dan peradaban pada masa tertentu dan bisa menjelaskan perjalannya masa dahulu sampai sekarang.

Sebelumnya Amsakar telah menemui beberapa orang yang kemudian mendapatkan informasi  ada salah satu buku yang ditulis cukup tua di Bulang Pulau Galang.

‘Saya belum dapat kopiannya saya minta sama orang tua, kasih saya kopian , nanti saya akan pelajari, ” kata Amsyakar yang juga sebagai budayawan Kepri.

Buku itu mengisahkan tentang ketemenggungan di Bulang, mengenai  perjalanan ketemenggungan, Bulang itu masuk ke stuktur ke sultanan Riau Lingga ,Johor dan Pahang.

Ia menjelaskan hirarki ke pemerintahan saat itu seperti dipertuan besar Itu sultan , ada juga yang dipertuan muda itu Raja  seperti halnya di Pulau  Penyengat  tanjung Pinang umumnya, ada juga tumenggung semacam bendahara itu markas besarnya ada di Bulang yang kita Abadikan tumenggung Abdul Jamal  itu salah satu tumenggung kesultanan di Riau lingga Johor Pahang.

Peran Tim  Krurator Museum yang bertugas mencari Informasi dan mengkomunikasikan kepada masyarkat agar berkontribusi membantu seperti benda2 sejarah bisa di Copy atau direflikasi ada banayak cara yang paling penting jejak yang kita dapatkan jangan sampai terhempas atau hilang seperti di  Museum Linggam Cahaya (Kabupaten Lingga) itu banyak sekali  tokoh -tokoh, masyarakat ,  itu yang punya piring – piring  antik bernilai sejarah  ,yang punya manuskri- manuskrip ,pelantikan atau penambalan sultan yang punya buku tua yang masih tulisan Arab Melayu yang didedikasikan demi kelestarian budaya, nah itu yang kita harapkan juga ada di Batam itu berarti diperlukan kerja lebih ekstra lagi untuk menggali potensi potensi perjalanan story’ sejarah daerah.

Sementara Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batam (Kadisparbud) Ardi Winata menjelaskan bahwa Museum Raja Ali Haji sudah berjalan dua tahun  pada 10 Oktober lalu yang didasarkan pendirian atas usulan Walikota Batam akan menyandang Akreditasi B dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi.

“Untuk pengadaan koleksi – koleksi Musium  melibatkan masyarakat dan tokoh kami sudah membentuk UPT beserta Tim Kurator melaui Perwako, ” kata Ardi.

Untuk tahun depan diacara hari musiem Batam tepatnya pada 10 okteber, Museum Raja Ali Haji akan menghadirkan Benda sejarah Melayu berupa Cogan Asli peninggalan kesultanan Riau Lingga  Johor, Pahang  yang hilang pada 1913 lalu yang sekarang sudah  ditemukan dan berada di Museum Nasioanal (Gajah).

Cogan sendiri merupakan salah satu alat kebesaran atau regalia yang dimiliki Kerajaan Johor Riau Lingga Pahang yang pada hari ini wilayahnya mencakup Kepulauan Riau, Riau, Jambi sampai ke Malaysia dan Singapura. Cogan berfungsi sebagai simbol, emblem, lambang dan tombak kebesaran kerajaan pada masanya.

“Nanti tahun depan. kita akan hadirkaan Cogan yang asli , dan sudah dikomunikasikan dengan Museum nasional,” kata Ardi.

Selain menghadirkan Cogan yang asli Disparbud Batam bersama Museum seluruh Indonesia akan mengelar pameran di Batam dan Meraka akan membawa koleksi- koleksi museiumnya untuk  ditampilkan di Batam.

  • Bagikan