TERASBATAM.ID — Kelangkaan minyak goreng bersubsidi mulai dirasakan di sejumlah pasar di Kota Batam dalam beberapa waktu terakhir. Harga melonjak signifikan, dengan merek lain menyentuh kisaran Rp30.000 hingga Rp40.000 per liter, jauh melampaui harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Batam, Mardanis, menjelaskan bahwa tersendatnya distribusi minyak goreng bukan disebabkan oleh penurunan produksi, melainkan pengalihan pasokan untuk memenuhi program bantuan pangan pemerintah.
Kondisi ini diungkapkannya dalam rapat High Level Meeting (HLM) Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemko Batam di Harris Hotel, Senin (27/4/2026).
Menurut Mardanis, perubahan pola distribusi terjadi karena Perum Bulog memiliki kewajiban menyalurkan bantuan pangan pada bulan Maret berupa paket beras 10 kilogram dan minyak goreng 2 liter per penerima. Bahkan, dalam realisasinya volume bantuan bisa menjadi dua kali lipat.
“Sekarang ini distribusi memang berubah. Sebagian besar minyak dialihkan untuk program bantuan pangan. Bulog memiliki kewajiban menyalurkan bantuan pada bulan Maret. Dalam realisasinya bisa menjadi dua kali lipat, yakni 20 kilogram beras dan 4 liter minyak,” ujar Mardanis.
Fokus Bulog dalam menyalurkan bantuan pangan membuat pasokan minyak goreng ke pasar komersial berkurang drastis, sehingga terjadi ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan.
“Kalau barang di pasar sedikit sementara permintaan tinggi, harga pasti naik. Itu hukum ekonomi. Sekarang minyak di pasar berkurang karena diprioritaskan untuk bantuan,” jelasnya.
Mardanis memastikan bahwa dari sisi produksi sebenarnya tidak ada kendala berarti. Di Batam sendiri terdapat dua produsen utama, yakni PT SON dan PT Musim Mas, yang tetap beroperasi normal.
“Secara kewajiban, produsen sudah memenuhi aturan DMO (Domestic Market Obligation), yakni kewajiban memasok kebutuhan dalam negeri. Ada juga DPO (Domestic Price Obligation) yang mengatur harga eceran tertinggi sekitar Rp11.700 per liter. Jadi dari sisi produsen sebenarnya aman,” katanya.
Namun, distribusi yang terfokus pada program bantuan membuat pasokan ke pasar tertahan, sehingga memicu kelangkaan dan lonjakan harga di lapangan.
Mardanis menambahkan bahwa kondisi ini bersifat sementara dan diperkirakan akan kembali normal setelah program bantuan pangan selesai disalurkan.
“Kalau bantuan pangan sudah selesai, distribusi akan kembali normal. Pasokan ke pasar akan meningkat lagi dan harga akan stabil,” ungkapnya.
Terkait potensi inflasi, pihaknya menyebut dampaknya masih relatif terkendali. Selain minyak goreng, komoditas seperti beras juga mengalami kenaikan, namun belum signifikan.
“Kalau sekarang dampak global seperti perang belum terlalu terasa. Yang agak krusial memang minyak goreng. Beras ada kenaikan, tapi masih kecil dan relatif stabil,” katanya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa jika kondisi distribusi tidak segera kembali normal, tekanan harga bisa semakin meningkat dalam waktu dekat.
“Kalau situasi ini tidak berubah, bulan depan bisa lebih berat. Tapi sejauh ini masih dalam kondisi yang bisa dikendalikan,” ucapnya.
[kang ajank nurdin]


