TERASBATAM.ID – Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 di Kota Batam berlangsung relatif kondusif tanpa aksi unjuk rasa besar di jalan. Meski demikian, kalangan buruh tetap menyuarakan tuntutan strategis, terutama percepatan pengesahan Undang-Undang Ketenagakerjaan yang baru.
Ketua DPC Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Kota Batam, Suprapto, menyebut keputusan tidak turun ke jalan dipengaruhi perkembangan di tingkat nasional. Ia merujuk pada pertemuan Presiden RI Prabowo Subianto dengan Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, yang diklaim telah menerima sejumlah tuntutan buruh.
“Awalnya kita juga berencana aksi. Tapi karena aspirasi sudah diterima di pusat, maka hari ini kita fokus pada langkah lanjutan, yaitu memastikan petisi buruh benar-benar dibahas,” kata Suprapto.
Menurutnya, DPRD di berbagai tingkatan memiliki tanggung jawab untuk meneruskan aspirasi tersebut hingga ke DPR RI. Ia berharap dalam waktu dekat pemerintah segera mengirimkan surat resmi agar pembahasan RUU Ketenagakerjaan baru bisa dipercepat.
“Waktu kita tinggal lima bulan menuju 31 Oktober 2026. Ini harus segera dibahas,” ujarnya.
Selain mendorong pengesahan regulasi baru, buruh juga menegaskan dua tuntutan utama lainnya, yakni penolakan upah murah dan penghapusan sistem outsourcing. Praktik alih daya, kata dia, masih ditemukan di sejumlah sektor di Kepulauan Riau dengan upah di bawah standar UMK.
Tak hanya itu, isu keselamatan dan kesehatan kerja (K3) juga menjadi sorotan. Buruh meminta pemerintah dan perusahaan lebih serius mencegah kecelakaan kerja yang masih terjadi.
“Kalau masih ada korban jiwa, tentu kita akan mengingatkan dengan cara lain,” tegasnya.
Sementara itu, Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, mengapresiasi peringatan May Day yang berlangsung tertib dan produktif. Ia menilai kondisi tersebut penting untuk menjaga iklim investasi di Batam.
“Atas nama pemerintah dan masyarakat Batam, kami mengucapkan selamat Hari Buruh. Aktivitas buruh yang kondusif sangat mendukung Batam sebagai daerah tujuan investasi,” kata Amsakar.
Ia juga menyinggung capaian investasi Batam yang menunjukkan tren positif pada triwulan pertama 2026. Nilai investasi disebut meningkat signifikan dari sekitar Rp8 triliun menjadi Rp17 triliun, atau tumbuh lebih dari 100 persen.
“Ini berarti peluang kerja semakin terbuka dan ekonomi daerah semakin bergerak,” ujarnya.
Amsakar menambahkan, penetapan UMK sebelumnya telah melalui proses kompromi antara buruh dan pelaku usaha, bahkan disertai munculnya skema upah sektoral baru. Ia mengajak seluruh pihak menjaga sinergi demi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Dalam momentum May Day ini, ia juga mengapresiasi inisiatif buruh yang ikut mendukung program nasional, termasuk gerakan lingkungan yang dicanangkan pemerintah pusat.
“Ini bentuk kolaborasi yang baik antara buruh dan pemerintah,” katanya.
Meski tanpa aksi besar, May Day 2026 di Batam tetap menjadi panggung bagi buruh untuk mengawal isu-isu krusial: kepastian hukum ketenagakerjaan, upah layak, serta jaminan keselamatan kerja di tengah geliat investasi yang terus meningkat.
[kang ajank nurdin]


