Berita
Beranda / Berita / Lentera Suci dari Lembah Kelam Pucuk

Lentera Suci dari Lembah Kelam Pucuk

Wali Kota Jambi Maulana (tengah, memegang ember semen) bersama Ketua RT setempat, Wiwin, memimpin prosesi peletakan batu pertama pembangunan Masjid Baitunnadiyah di Jalan Syalendra, Kelurahan Rawasari, Kecamatan Alam Barajo, Kota Jambi, Sabtu (22/8/2026). Pembangunan masjid yang berdiri di atas tanah wakaf warga tersebut menjadi simbol transformasi sosial kawasan bekas lokalisasi "Pucuk" (Payo Sigadung) menuju pusat kegiatan keagamaan, wisata religi, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
TERASBATAM.IDLantunan shalawat bergema merdu di sepanjang Jalan Syalendra, Kelurahan Rawasari, Kecamatan Alam Barajo, Kota Jambi, Sabtu (22/8/2026). Di balik riuk senyap pagi yang cerah itu, tumpukan batu pertama Masjid Baitunnadiyah diletakkan oleh Wali Kota Jambi Maulana. Momen tersebut menjadi penanda runtuhnya stigma kelam Payo Sigadung—kawasan yang puluhan tahun tersohor dengan sebutan ”Pucuk”, lokalisasi terbesar di Kota Jambi.
Suara tawar-menawar hidung belang dan dentum musik bar malam yang dulu lazim terdengar kini digantikan dengung hafalan Al-Quran anak-anak. Keremangan Pucuk perlahan sirna, berganti menjadi lembaran baru yang lebih suci.
Perubahan itu tak datang tiba-tiba. Jalan sunyi perubahan diusung oleh Wiwin, seorang perempuan lokal yang juga putri dari salah satu mantan mucikari terbesar di kawasan tersebut. Melihat dari dekat rantai kemiskinan, depresi, stigma sosial, hingga gumpalan generasi tanpa identitas ayah dan jeratan narkotika, nurani Wiwin berontak.
”Saya tidak menutupi masa lalu kawasan ini. Justru karena itu, saya ingin anak-anak di sini punya masa depan dan tidak terus dihantui stigma diskriminatif,” tutur Wiwin sembari mengusap air mata harunya.

Menerobos Stigma dan Ancaman

Gebrakan awal Wiwin bermula pada pertengahan 2023. Geram oleh cengkeraman barang haram di lingkungannya, ia bersama rombongan ibu-ibu memberanikan diri menggerebek markas penggunaan sabu-sabu di dekat rumahnya. Aksi nekat yang mendadak viral itu memicu gelombang dukungan publik.
Tak berhenti di situ, Wiwin merobohkan mini bar milik ibunya dan menyulap lahan tersebut menjadi Musala Al Arva serta rumah tahfiz sederhana. Setiap sore, pemandangan beringsut berganti: puluhan anak berseragam mengaji berhamburan memenuhi musala.
Keberanian dan dedikasinya membawa Wiwin terpilih menjadi Ketua RT setempat. Namun, langkahnya tak pernah mulus. Gelombang penolakan, tuduhan, hingga fitnah dari pihak-pihak yang menggantungkan hidup dari bisnis remang-remang terus memborbardirnya.
”Tuduhan dan fitnah itu sangat menyakitkan, bahkan berat badan saya sampai turun tiga kilogram dalam beberapa minggu. Tetapi saya memilih bertahan demi anak-anak,” katanya tegar.

Menuju Pusat Wisata Religi dan UMKM

Perjuangan Wiwin akhirnya memantik perhatian Wali Kota Jambi Maulana. Saat menyambangi musala kecil tempat anak-anak mengaji di tengah hawa gerah, Maulana terketuk. Wiwin bahkan merelakan rumah tinggalnya diwakafkan sebagai tapak utama pembangunan masjid, disusul perataan lahan bangunan mangkrak di sekitarnya.
Pembangunan Masjid Baitunnadiyah tersebut diinisiasi secara pribadi oleh Maulana tanpa menyerap anggaran APBD, sebagai wujud komitmen mengubah peta sosial kawasan bekas lokalisasi tersebut.
”Saya tergerak saat pertama kali mendengar langsung ada 50 anak mengaji dan menghafal Al-Quran di musala yang kecil dan panas. Anak-anak ini berhak mendapatkan ruang ibadah dan belajar yang layak serta nyaman,” ujar Maulana.
Pemerintah Kota Jambi merancang kawasan Masjid Baitunnadiyah bukan sekadar tempat ibadah, melainkan pula pusat wisata religi dan sentra pemberdayaan UMKM. Fasilitas ini disiapkan sebagai alternatif penggerak roda ekonomi bagi warga yang memilih mentransformasi mata pencariannya.
Masjid ini ditargetkan rampung agar dapat digunakan pada Hari Raya Idul Fitri mendatang serta menjadi pusat penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Kecamatan Alam Barajo. Pucuk kini bukan lagi tentang lembar-lembar rupiah yang menyisakan trauma, melainkan tentang tunas-tunas baru yang mengeja harapan.
[Dalil Harahap]