TERASBATAM.ID — Krisis pasokan air bersih kembali melanda Kota Batam, Kepulauan Riau, dan memicu keresahan mendalam bagi warga terdampak. Di Perumahan Anggrek Permai, Baloi Mas, tepatnya di wilayah Rukun Tangga (RT) 006/RW 001, Kelurahan Baloi Indah, Kecamatan Lubuk Baja, aliran air bersih dilaporkan mati total sejak Minggu (7/6/2026) hingga Senin (8/6/2026) pagi. Kondisi ini memaksa warga mencari pasokan alternatif karena bak penampungan air di rumah-rumah mulai kosong melongpong.
“Rumah air sudah kosong plong. Kalau hari ini tidak hidup juga, ya terpaksa harus dapat suplai darurat. Air tidak bisa bertahan lagi sampai besok,” ujar Halim (42), salah seorang warga RT 006 Perumahan Anggrek Permai, Senin pagi. Ia bersama warga lainnya kini mulai cemas dan bingung mencari opsi membeli air tangki komersial demi memenuhi kebutuhan domestik yang mendesak.
Berdasarkan pemantauan warga, gangguan distribusi air kali ini diduga dipicu oleh adanya proyek galian pipa di sepanjang Jalan Yos Sudarso, tepatnya di depan Sekolah Pelita Utama dekat kawasan Baloi Kolam. Pengerjaan infrastruktur tersebut disinyalir berdampak sistematis pada wilayah tangkapan distribusi di kawasan perumahan sekitarnya.
Secara terpisah, pihak pengelola melalui akun resminya mengonfirmasi adanya gangguan teknis utama berupa kebocoran pipa distribusi utama berdiameter DN 500 milimeter di depan Informa, Simpang Kepri Mall. Melalui pembaruan informasi yang diterima warga pada Senin pagi, PT Air Batam Hilir (ABH) menyatakan proses perbaikan masih berlangsung. Pihak pengelola mengakui sulitnya medan lokasi dan beberapa hambatan teknis di lapangan menyebabkan durasi pengerjaan memakan waktu lebih lama dari yang diperkirakan.
Sebagai langkah mitigasi darurat, PT Air Batam Hilir menyiagakan armada mobil tangki air bersih gratis untuk mendistribusikan air kepada pelanggan yang terdampak gangguan suplai di atas 24 jam. Namun, bantuan darurat ini harus dikoordinasikan secara kolektif melalui Ketua RT, RW, atau kelurahan setempat sebelum diajukan ke pusat layanan pelanggan resmi.
Bagi masyarakat Batam, tersendatnya keran air bersih belakangan ini kian memperpanjang catatan minor penataan utilitas kota. Sejak pengelolaan air bersih dialihkan dari PT Adhya Tirta Batam (ATB) ke Badan Pengusahaan (BP) Batam melalui PT Air Batam Hilir, warga kerap mengeluhkan penurunan kualitas pelayanan. Mulai dari insiden mati total yang berulang, air yang berbau, hingga kondisi air yang keruh dan kotor saat mengalir.
Warga menilai performa pengelolaan air saat ini sangat kontras jika dibandingkan dengan era manajemen sebelumnya, di mana stabilitas kontinuitas dan kualitas air bersih jauh lebih terjamin di tengah laju pertumbuhan populasi Batam sebagai kota industri dan gerbang internasional. (FAD)


