TERASBATAM.ID — Kabut asap kiriman beracun yang mengepung wilayah Kepulauan Riau (Kepri) memaksa pemerintah mengambil langkah darurat. Sebanyak 430.002 siswa dari jenjang SD hingga SMA/Sederajat di seluruh Kepri mendadak “dirumahkan” dan harus menjalani proses Belajar Dari Rumah (BDR) mulai Selasa (15/9/2026).
Namun, kebijakan darurat ini langsung memicu persoalan baru: nasib penyaluran program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi ratusan ribu pelajar kini terlunta-lunta tanpa kepastian.
Keputusan penghentian Pembelajaran Tatap Muka (PTM) tersebut tertuang dalam Surat Edaran (SE) Sekretaris Daerah Provinsi Kepri Nomor B/400.3/58/DISDIK-SET/2026. Aturan ini mewajibkan BDR bagi SMA/SMK dengan Indeks Kualitas Udara (IKU) di atas 100, serta SLB dengan IKU di atas 90.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepri, Andi Agung, menegaskan bahwa skema BDR berlaku fleksibel sampai kualitas udara membaik.
“Mulai hari ini surat edaran sudah kami sampaikan ke seluruh satuan pendidikan. Kami tidak menetapkan sampai kapan BDR ini berlangsung karena sifatnya situasional. Jika besok hujan dan kualitas udara membaik, siswa bisa langsung kembali belajar di sekolah,” ujar Andi saat dihubungi, Selasa (15/9/2026).
Akan tetapi, saat dikonfirmasi mengenai nasib skema distribusi Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi siswa yang kini belajar dari rumah, Disdik Kepri justru terkesan ‘cuci tangan’ dan enggan berspekulasi.
“Kalau soal MBG-nya, saya tidak tahu bagaimana ya. Tanyakan saja langsung sama mereka (SPPG) soal itu,” ucap Andi bergeming.
Hingga berita ini diunggah, pihak Koordinator Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) wilayah Kota Batam belum memberikan respons maupun penjelasan resmi terkait skema teknis pembagian MBG di tengah kebijakan siswa yang mendadak dirumahkan tersebut.
Langkah penghentian PTM ini terpaksa diambil lantaran kualitas udara di Kepri berada pada level berbahaya bagi kesehatan anak. Berdasarkan data BMKG Stasiun Meteorologi Class I Hang Nadim Batam per Selasa (15/9/2026) pukul 08.00 WIB, konsentrasi polutan PM2.5 di Batam menembus angka 60,3 dengan kategori Tidak Sehat.
Dampak dari “lumpuhnya” aktivitas sekolah ini memukul populasi pelajar yang cukup masif. Berdasarkan data Kemendikdasmen per September 2026, total 430.002 siswa di Kepri yang terdampak meliputi:
- SD / Sederajat: 244.158 siswa
- SMP / Sederajat: 116.559 siswa
- SMA / Sederajat: 69.287 siswa
Melalui edaran tersebut, pihak sekolah diminta menyusun bahan ajar mandiri, sementara orang tua diimbau ketat mengawasi anak agar tidak berkeliaran di luar rumah demi menghindari paparan racun kabut asap.
[kang ajank nurdin]


