TERASBATAM.ID — Kapolda Kepulauan Riau Irjen Pol Asep Safrudin melakukan kunjungan kerja ke Kawasan Industri Terpadu Kabil (KITK), Nongsa, Batam, Rabu (1/4/2026). Kedatangan orang nomor satu di jajaran kepolisian Kepri ini disambut langsung oleh CEO Citramas Group, Kris Taenar Wiluan, pendiri kawasan industri yang menjadi salah satu lokomotif ekonomi di Batam.
Dalam kunjungan yang turut didampingi Kapolresta Barelang Kombes Pol Anggoro Wicaksono itu, kedua pihak membahas stabilitas keamanan dan operasional kawasan industri strategis yang menjadi objek vital nasional. Kapolda memastikan bahwa situasi di KITK dalam kondisi aman dan kondusif, sehingga aktivitas industri serta investasi dapat berjalan lancar.
“Saya ingin memastikan langsung bahwa kawasan industri ini aman. Ini penting untuk memberikan rasa aman bagi para pelaku usaha dan investor yang telah menanamkan modalnya di Batam,” ujar Irjen Pol Asep Safrudin usai berdialog dengan jajaran manajemen KITK.
Profil Kris Wiluan: Pengusaha Tangguh yang Bangkit dari Krisis
Kris Taenar Wiluan bukanlah nama asing di dunia usaha nasional maupun internasional. Pendiri Citramas Group dan KS Energy ini dikenal sebagai pengusaha tangguh yang telah membangun imperium bisnis dari nol. Lahir di Jakarta pada 5 November 1948, pria berzodiak Scorpio ini memulai kariernya sebagai programmer di Guest, Keen and Nettlefold (GKN) Group di Inggris setelah menyelesaikan pendidikannya di London pada 1971.
Dua tahun kemudian, ia dipercaya menjadi General Manager di United Motor Works (UMW) di Singapura. Namun, langkahnya sebagai pengusaha dimulai pada 1977 ketika ia melihat peluang besar di sektor logistik dan pasokan untuk perusahaan migas multinasional di Indonesia. Pada 1981, Kris mendirikan Citramas Group di Batam, perusahaan yang berfokus pada produksi pipa dan peralatan pengeboran migas yang sebagian besar dipasarkan ke luar negeri.
Kesuksesan Citramas menjadi pijakan baginya untuk mendirikan KS Energy di Singapura, perusahaan penyedia anjungan pengeboran dan layanan pendukung sektor migas lepas pantai yang melayani berbagai negara di Asia, Timur Tengah, hingga Eropa.
Meski terlihat mulus, perjalanan bisnis Kris Wiluan tidak selalu mudah. Ia diketahui pernah mengalami krisis dan hampir bangkrut hingga tiga kali. Namun, ia berhasil bertahan dan menjadikan setiap kegagalan sebagai pelajaran berharga.
Pada 2009, Kris dianugerahi penghargaan Indonesia Ernst & Young Entrepreneur of The Year sebagai bentuk pengakuan atas kontribusinya dalam dunia usaha dan ketangguhannya membangun bisnis. Bahkan, majalah Forbes sempat mencatatnya sebagai salah satu dari 40 orang terkaya Indonesia selama tiga tahun berturut-turut, dengan estimasi kekayaan mencapai US$185 juta pada 2007.
Di usianya yang kini menginjak 78 tahun, Kris Wiluan tetap aktif mengelola Citramas Group bersama keluarga. Putranya, Mike Wiluan, menjabat sebagai Direktur Cenema, sementara Ricat Wiluan menjabat sebagai Direktur DSAW. Istri tercintanya, Elizabeth Wiluan, juga kerap mendampingi dalam berbagai kegiatan sosial dan bisnis.
Dalam pertemuan tersebut, Direktur KITK, Regy, memaparkan perkembangan kawasan industri yang telah menjadi salah satu penyangga ekonomi Batam. Kapolda Kepri bersama Kapolresta Barelang kemudian melakukan pemantauan langsung ke lapangan dengan berkeliling kawasan menggunakan kendaraan operasional.
Kapolresta Barelang Kombes Pol Anggoro Wicaksono menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen penuh untuk menjaga keamanan kawasan industri strategis di wilayah hukumnya.
“Kami hadir untuk memastikan keamanan, mendukung kelancaran operasional, dan memberikan rasa aman bagi para pekerja maupun investor. Sinergi antara kepolisian dan pengelola kawasan industri seperti ini harus terus ditingkatkan,” ujar Anggoro.
Kunjungan ini menjadi bukti nyata sinergi antara kepolisian dan dunia usaha dalam menjaga stabilitas keamanan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di Kota Batam. Kawasan Industri Terpadu Kabil yang didirikan Kris Wiluan sejak 1981 kini semakin kokoh sebagai salah satu pilar industri nasional yang terus berkembang di bawah pengawasan ketat aparat keamanan.


