Profil
Beranda » Berita » Darah Komando di Koridor Pertahanan

Darah Komando di Koridor Pertahanan

Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin memberikan paparan mendalam kepada 160 jurnalis peserta Retreat Bela Negara Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Tahun 2026 di Kampus Bela Negara Kementerian Pertahanan, Kecamatan Rumpin, Bogor, Jawa Barat, akhir Januari 2026 lalu.

TERASBATAM.ID — Di ruang kerjanya yang baru di Jalan Medan Merdeka Barat, Sjafrie Sjamsoeddin (73) memikul tanggung jawab besar sebagai Menteri Pertahanan RI periode 2024–2029. Namun, di balik seragam sipil dan jabatan politisnya, Sjafrie adalah personifikasi dari kedisiplinan militer yang ditempa sejak dari meja makan keluarga.

Lahir di Makassar pada 30 Oktober 1952, Sjafrie merupakan putra keenam dari sebelas bersaudara. Ia tumbuh besar dalam lingkungan yang sarat dengan nilai-nilai keprajuritan. Ayahnya, Letnan Kolonel TNI (Purn) Haji Sjamsoeddin Koernia, adalah sosok yang berhasil menanamkan benih pengabdian kepada negara. Keberhasilan sang ayah terbukti ketika dua putranya berhasil menembus jajaran perwira tinggi di dua matra yang berbeda, masing-masing melalui jalur pasukan elite.

Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin memberikan keterangan pers disela-sela pemaparan beliau kepada 160 jurnalis peserta Retreat Bela Negara Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Tahun 2026 di Kampus Bela Negara Kementerian Pertahanan, Kecamatan Rumpin, Bogor, Jawa Barat akhir Januari 2026 lalu. Sejumlah pejabat tinggi Kemhan mendampinginya.

Tradisi Pasukan Khusus

Jejak Sjafrie di dunia militer dimulai saat ia lulus dari Akabri tahun 1974. Ia adalah rekan seangkatan Presiden Prabowo Subianto. Sejak awal karier, Sjafrie memilih jalan yang berat: komando. Ia merintis karier di Kopassandha (kini Kopassus), Korps Baret Merah yang dikenal dengan seleksi dan pelatihan sangat ketat.

Berbagai operasi tempur di wilayah konflik seperti Timor-Timur (Nanggala X), Aceh (Nanggala XXI), hingga Irian Jaya (Tim Maleo) telah mematangkan karakternya. Puncak karier militernya di lapangan tercatat saat ia menjabat sebagai Pangdam Jaya di masa-masa kritis transisi reformasi 1997.

Tak hanya Sjafrie, sang adik, Marsekal Muda TNI (Purn) Ma’roef Sjamsoeddin, mengikuti jejak pengabdian namun di matra udara. Ma’roef merupakan lulusan AAU 1980 dan besar di Korps Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat), pasukan elite TNI AU. Keberhasilan kakak-beradik ini meraih pangkat jenderal dari unit pasukan khusus menjadi catatan langka dalam sejarah militer Indonesia.

Iskandar Zulkarnain Nst: Meluruskan Kiblat Reformasi Birokrasi dari Lorong Akademik

Estafet dan Transformasi

Kini, Sjafrie tidak lagi berada di medan tempur. Transformasi kariernya dari militer aktif ke birokrasi pertahanan berjalan mulus. Ia pernah menjabat sebagai Sekjen Dephan (2005) dan Wakil Menteri Pertahanan (2010–2014) di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pengalamannya sebagai Asisten Khusus Menhan selama lima tahun terakhir (2019–2024) menjadikannya sosok yang paling memahami visi pertahanan jangka panjang pemerintah.

Menariknya, nilai-nilai pengabdian ini juga diteruskan kepada generasi ketiga. Putra sulungnya, Kolonel Inf Mohammad Benrieyadin Sjafrie, kini mengikuti jejak sang ayah di korps infanteri. Benrieyadin baru saja dilantik menjadi Komandan Brigade Infanteri (Danbrigif) 17/Sakti Budi Bakti, salah satu satuan elite di bawah Kostrad.

Bagi Sjafrie, jabatan menteri bukanlah sekadar posisi politik, melainkan kelanjutan dari janji prajurit yang ia ucapkan lima dekade silam di Lembah Tidar. Di tangan putra Letkol Sjamsoeddin Koernia ini, arah kebijakan pertahanan Indonesia kini diletakkan, dengan membawa serta warisan disiplin dari sebuah keluarga militer yang bersahaja.