Berita
Beranda / Berita / Dampak Perang Iran, Indonesia-Malaysia-Singapura Waspadai Terorisme Laut

Dampak Perang Iran, Indonesia-Malaysia-Singapura Waspadai Terorisme Laut

Kepala Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI Laksamana Madya TNI Irvansyah bersiap menyambut kedatangan kapal patroli Singapore Police Coast Guard (SPCG) TS 58 White Tip Shark di Pangkalan Bakamla RI, Batam, Kepulauan Riau, Selasa (11/8/2026). Kedatangan kapal tersebut menandai dimulainya Latihan Bersama Tripartit INSIMA 2026 antara Indonesia, Singapura, dan Malaysia guna memperkuat kesiapsiagaan dan keamanan maritim kawasan.
TERASBATAM.ID — Escalation dinamika politik dan konflik bersenjata di Timur Tengah, termasuk ketegangan yang melibatkan Iran, terus memicu kewaspadaan terhadap potensi imbasnya ke jalur pelayaran vital di Asia Tenggara. Meski potensi perembetan ancaman terorisme akibat eskalasi geopolitik tersebut sejauh ini belum menunjukkan indikasi langsung di perairan kawasan, penjagaan keamanan maritim di Selat Malaka, Selat Singapura, hingga Laut Natuna Utara tetap terus diperketat.
Isu ancaman terorisme berbasis jalur laut dan dinamika keamanan global menjadi salah satu sorotan dalam jumpa pers Latihan Bersama Tripartit INSIMA (Indonesia, Singapura, dan Malaysia) di Pangkalan Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI, Batam, Kepulauan Riau, Selasa (11/8/2026).
Kepala Bakamla RI Laksamana Madya TNI Irvansyah menegaskan, kendati potensi penyusupan jaringan teror lewat jalur laut tetap ada, hingga kini belum ditemukan intelijen yang mengarah pada dampak langsung konflik Timur Tengah terhadap situasi keamanan perairan nasional.
“Kemungkinan teroris lewat laut itu ada, tapi kalau potensi eskalasi dampak Timur Tengah sampai sekarang belum ada data atau informasi yang menunjukkan ke arah situ,” tegas Irvansyah.
Menurut Irvansyah, tantangan keamanan di perairan strategis kawasan umumnya masih didominasi oleh kejahatan transnasional konvensional seperti penyelundupan narkoba, tindak pidana perdagangan orang (TPPO), hingga pencurian di laut (sea robbery). Oleh karena itu, konsolidasi antar-penjaga laut lintas negara menjadi benteng utama dalam mengantisipasi segala bentuk ancaman maritim yang berkembang mendadak.
“Yang penting kita kompakkan dulu bertiga ini. Kita sudah seperti saudara. Hubungan komunikasi lancar, by phone saya bisa telepon Pak Ang Eng Seng dan Datuk Rosli anytime, jam berapa pun,” ujarnya.
Guna memperkuat benteng perairan dari berbagai potensi gangguan kejahatan, Bakamla RI, Malaysian Maritime Enforcement Agency (MMEA), dan Singapore Police Coast Guard (SPCG) menggelar latihan bertajuk INSIMA yang berlangsung selama tiga hari, mulai Senin (10/8/2026) hingga Rabu (12/8/2026). Latihan ini mengerahkan tiga kapal patroli serta 60 personel gabungan dengan fokus materi simulasi Visit, Board, Search, and Seizure (VBSS) atau pemeriksaan kapal mencurigakan di laut.
Sinergi ketat tiga negara ini dinilai mendesak mengingat Selat Malaka dan Selat Singapura merupakan urat nadi perdagangan internasional yang sangat rawan dimanfaatkan oleh kelompok kejahatan lintas negara.
Director General MMEA Admiral (M) Datuk Haji Mohd. Rosli bin Abdullah menyampaikan bahwa latihan bersama dan sinergi tripartit ini penting untuk pertukaran data serta peningkatan kapasitas operasi di lapangan.
“Di sini kita dapat laksanakan perkongsian maklumat (berbagi informasi), perkongsian best practices yang boleh dikongsikan, serta networking. Melihat ke depannya, mungkin exercise seperti ini boleh kita perteguhkan dan perbesarkan agar lebih mendukung operasi kita di masa hadapan,” kata Rosli.
Senada dengan hal itu, Commander SPCG Senior Assistant Commissioner (SAC) Ang Eng Seng menekankan pentingnya respons bersama terhadap isu-isu keamanan maritim untuk menciptakan kawasan yang aman bagi aktivitas perekonomian global.
“This trilateral cooperation is focused on achieving practical outcomes to ensure safer and more secure seas for our people and our countries. Moving forward, we will be looking into information exchange, joint training, coordinated patrols, rendezvous out at sea, and conducting joint exercises,” ungkap Ang Eng Seng.
Kerja sama taktis tiga negara tetangga ini diharapkan menjadi pijakan awal sebelum memperluas skala latihan ke tingkat regional melalui ASEAN Coast Guard Forum, guna memastikan perairan Asia Tenggara tetap kondusif di tengah ketidakpastian geopolitik global.