TERASBATAM.ID — Meski dibayangi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) global, arus kunjungan wisatawan mancanegara ke Kota Batam, Kepulauan Riau, justru menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Pemerintah Kota Batam mencatat fenomena ini sebagai dampak dari tingginya biaya hidup di negara tetangga, terutama Singapura dan Malaysia.
Walikota Batam, Amsakar Achmad, Selasa (7/4/2026), memaparkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan pertumbuhan positif kunjungan wisman pada awal tahun ini.
“Data Januari-Februari memperlihatkan ada kenaikan. Dari 126.620 kunjungan, meningkat menjadi 131.308 kunjungan. Dari total tersebut, sebanyak 57.487 kunjungan didominasi oleh warga Singapura,” ujar Amsakar.
Destinasi Alternatif
Amsakar membaca situasi ini sebagai sinyal bahwa Batam kini menjadi tempat pelarian atau alternatif bagi warga Singapura untuk menyiasati tekanan ekonomi di negaranya. Sebagaimana diketahui, Pemerintah Singapura saat ini tengah melakukan penyesuaian harga BBM yang memicu kenaikan biaya hidup di sana.
“Batam menjadi pilihan warga Singapura untuk berkunjung dan berbelanja kebutuhan pokok karena selisih harga yang masih kompetitif,” tambahnya.
Menurut Amsakar, sektor kepariwisataan memberikan efek pengganda (multiplier effect) yang luas bagi ekonomi Batam. Mulai dari pembelian tiket feri, penggunaan jasa taksi, okupansi hotel, hingga aktivitas di pusat perbelanjaan dan kuliner, semuanya menggerakkan sektor informal di daerah tersebut.
Antisipasi Dampak BBM Dalam Negeri
Meski Batam mendapat dampak positif dari kunjungan wisman, Amsakar tidak memungkiri bahwa rencana penyesuaian harga BBM di dalam negeri juga menuntut kewaspadaan pemerintah daerah. Ia menegaskan ada tiga komoditas strategis yang penyesuaian tarifnya harus dilakukan dengan sangat hati-hati karena berdampak langsung pada inflasi, yaitu BBM, tarif listrik, dan sembako (khususnya beras).
Pemerintah Kota Batam bersama Badan Pengusahaan (BP) Batam telah melakukan pertemuan dengan para pelaku usaha untuk memetakan titik-titik krusial, terutama pada sektor logistik dan transportasi.
“Jika nanti ada penyesuaian harga BBM secara final, ini tentu akan berkonsekuensi pada proyek-proyek pemerintah. Sangat mungkin terjadi penyesuaian volume kontrak kerja,” kata Amsakar.
Ia memberikan ilustrasi sederhana bahwa jika sebelumnya anggaran senilai X mampu mengerjakan 100 persen volume proyek, dengan kenaikan biaya produksi, anggaran yang sama mungkin hanya bisa mencakup 90 hingga 95 persen volume pengerjaan. Oleh karena itu, peninjauan kembali terhadap kontrak-kontrak pengerjaan fisik akan dilakukan guna menyesuaikan dengan kondisi harga pasar terbaru.
[kang ajank nurdin]


