TERASBATAM.id: Pemerintah menjanjikan penurunan harga tiket pesawat mulai Oktober 2024. Janji ini merespons keluhan masyarakat, khususnya para pelaku industri pariwisata, terkait tingginya harga tiket pesawat yang mencapai 70 persen dari struktur biaya perjalanan.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno menargetkan penurunan harga tiket pesawat hingga 10 persen. Untuk merealisasikannya, pemerintah telah membentuk satuan tugas (satgas) yang diketuai oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menkomarves) Luhut Binsar Pandjaitan.
Namun, Ketua Umum Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Hariyadi Sukamdani meragukan janji tersebut dapat terealisasi dalam waktu dekat. Menurutnya, ada beberapa faktor yang mempengaruhi harga tiket pesawat, di antaranya tingginya harga avtur, biaya ground handling, biaya leasing, dan kurangnya kompetisi antarmaskapai penerbangan.
“Struktur biaya pesawat itu kan terbesar adalah di bahan bakar, di avtur. Di avtur, di biaya land arrangement mereka, di ground handling yang di darat, sama biaya leasing, biaya untuk modal,” ujar Ramdani kepada wartawan di Jakarta, Rabu (2/10/2024).
Ramdani menyoroti dominasi salah satu maskapai di jalur penerbangan domestik yang mencapai lebih dari 70 persen pangsa pasar. Kondisi ini, menurutnya, mengurangi kompetisi yang berdampak pada harga tiket.
“Kalau ada kompetisinya lebih longgar, otomatis akan ada persaingan. Nah sekarang ini kan boleh dibilang khusus untuk domestik, didominasi oleh satu maskapai, yang dia lebih dari 70 persen menguasai pasar, itu tentu juga harus ada. Ada regulasi yang mengarah ke sana. Kalau itu dilakukan, akan terjadi (penurunan harga),” tegasnya.
Selain itu, Ramdani juga menyinggung peraturan Menteri Perdagangan yang memberlakukan bea masuk atas suku cadang pesawat. Kebijakan ini dinilai berpotensi mempengaruhi harga tiket pesawat.
“Bisa (turun 10 persen), memang betul. Karena kemarin gara-gara peraturan Menteri Perdagangan itu kan, yang kena bea lagi. Nah itu juga kita akan lihat, efektif apa nggak. Karena sampai hari ini kita lihat, kelihatannya belum ada tanda-tanda. Jadi kita nggak tahu juga ya, nanti bisa kita lihat. Tapi memang betul, sparepart adalah satu komponen impor,” jelasnya.
Meskipun optimistis penurunan harga tiket pesawat dapat mencapai 10 persen, Ramdani tetap bersikap menunggu dan melihat. Ia menekankan pentingnya pengendalian elemen-elemen yang mempengaruhi harga tiket pesawat agar penurunan harga dapat terwujud.
“Tapi avtur juga penting juga, kalau di harganya nggak kompetitif, orang dia 40 persen dari struktur cost-nya dia kok. Jadi kembali lagi kita lihat saja nanti gimana. Nah ini kan permasalahan tinggal hitungan hari nih, pemerintahan yang sekarang ini sampai 19 Oktober,” pungkasnya.


