TERASBATAM.ID — Tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap sejumlah mata uang asing mulai berdampak nyata pada pola akses kesehatan masyarakat di wilayah perbatasan. Guna menyiasati lonjakan pengeluaran akomodasi medis ke luar negeri, sebagian pasien penyakit kronis di Kota Batam, Kepulauan Riau, kini beralih menggunakan jasa penitipan (jastip) berbasis daring untuk mengamankan pasokan obat rutin mereka.
Fenomena ini salah satunya dihadapi oleh keluarga MH, seorang pasien penyakit jantung kronis di Kecamatan Lubuk Baja, Batam. Pasca-menjalani operasi bedah minimal invasif jantung (minimal invasive cardiac surgery) di sebuah rumah sakit di Penang, Malaysia, MH diwajibkan mengonsumsi kombinasi obat-obatan kardiologi khusus secara kontinu setiap harinya.
Istri MH, Esmeralda (40), mengungkapkan bahwa kombinasi antara kelelahan fisik perjalanan dan depresiasi nilai tukar rupiah membuat skema kontrol medis berkala ke Malaysia kian memberatkan kas keluarga. Berdasarkan prosedur standar, suaminya terjadwal melakukan kontrol klinis langsung ke Penang setiap tiga bulan sekali sekaligus menebus resep obat.
“Kami sudah lelah di perjalanan dan sangat berat di ongkos kalau harus terus-menerus terbang ke Penang hanya untuk mengambil obat rutin,” ujar Esmeralda, Kamis (11/6/2026).
Situasi pelik ini diperparah oleh kenyataan bahwa klasifikasi obat-obatan khusus jantung yang dibutuhkan suaminya tidak tersedia atau memiliki formulasi komersial yang berbeda di pasar farmasi domestik. Di sisi lain, seluruh biaya pengobatan luar negeri ini harus ditanggung melalui dana mandiri karena berada di luar cakupan skema jaminan kesehatan nasional BPJS Kesehatan.
Ditambah lagi, harga tiket kapal feri dari Batam ke Malaysia dan Singapura melonjak sebagai dampak berantai dari kenaikan harga minyak dunia.
“Kalau langsung ke Penang, butuh biaya tiket feri, tiket pesawat dari Johor Bahru ke Penang, hotel, dan makanan. Apalagi harga obatnya menjadi lebih mahal karena rupiah melemah terhadap ringgit,” kata Esmeralda.
Siasat Logistik Daring
Guna menyiasati kendala tersebut, Esmeralda memanfaatkan platform media sosial Instagram dan layanan WhatsApp melalui salah satu akun penyedia spesialis kargo komoditas luar negeri. Melalui mekanisme pra-pesan (pre-order), ia mengamankan pasokan empat jenis obat jantung krusial tanpa harus meninggalkan Batam.
Berdasarkan data manifestasi pesanan tertanggal 13 Mei 2026, total belanja murni untuk empat varian obat tersebut mencapai Rp2.395.000. Komoditas farmasi impor tersebut mencakup Parmodia 0,1 mg, Inspra 25 mg, Amval 5 mg/80 mg, dan Novtor Rosuvastatin 20 mg. Setelah diakumulasikan dengan biaya pengiriman via kargo rute rute Malaysia-Surabaya-Batam serta instrumen perlindungan asuransi, total pengeluaran bersih berada pada angka Rp2.441.000.
Skema transaksi jastip digital ini sepenuhnya bersandar pada tingkat kepercayaan antara konsumen dan kurir. Pihak penyedia jasa menerapkan kebijakan pembayaran uang muka (down payment) sebesar 50 persen di awal, sedangkan sisa pelunasan sebesar Rp1.220.500 dibayarkan setelah paket obat tiba di alamat tujuan. Prosedur kargo lintas batas ini memakan waktu tunggu berkisar antara satu hingga dua minggu sejak kapal logistik diberangkatkan dari Malaysia.
Risiko yang Terabaikan
Kendati pengadaan mandiri ini dinilai membantu oleh konsumen pada pemesanan pertama mereka, jalur informal ini menyimpan risiko yang cukup besar bagi pasien. Potensi tersebut meliputi peredaran obat palsu, degradasi kualitas zat aktif obat akibat malapraktik penyimpanan selama pengapalan, hingga pelanggaran regulasi kepabeanan serta izin edar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Namun, urgensi finansial dan kelangsungan hidup memaksa sejumlah keluarga pasien untuk mengabaikan risiko-risiko tersebut. Selama instabilitas nilai tukar rupiah terus membayangi dan keterbatasan subtitusi obat domestik belum teratasi, perburuan obat lintas batas via jalur digital diproyeksikan akan terus meningkat menjadi opsi rasional bertahan hidup bagi sebagian masyarakat di wilayah perbatasan.


