TERASBATAM.ID – Sebuah cita-cita besar melayang dari mimbar Masjid Jabal Arafah, Nagoya, Batam, saat ribuan jemaah masih khusyuk menyambut Salat Idul Fitri, Sabtu (21/3/2026). Dr. H. Asman Abnur, S.E., M.Si., Ketua Pembina Yayasan Arafah Batam, mengumumkan rencana ambisius: membangun gedung tertinggi di kawasan Nagoya, lengkap dengan kubah (dome) di puncaknya sebagai simbol “Kota Madani”.
“Doakan kami sedang memfinalisasi lahan di sisi kanan masjid. Insya Allah akan dibangun sebuah gedung yang tekadnya adalah menjadi gedung tertinggi di Nagoya,” ujar Asman di hadapan sekitar 2.500 jemaah yang memadati masjid hingga lantai tiga pada hari kemenangan itu.
Gedung yang disebutnya sebagai representasi visi Kota Madani—sebuah konsep yang ia rintis bersama almarhum Nyat Kadir saat menjabat sebagai Wakil Wali Kota Batam periode 2001-2005—diproyeksikan akan melampaui ketinggian bangunan-bangunan di sekitarnya. “Di atas gedung itu akan kita bangun dome yang melambangkan Madani tersebut. Insya Allah, Masjid Jabal Arafah akan menjadi representasi dan destinasi khusus bagi masyarakat umat Islam,” tambah mantan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi itu.
Namun, sekitar dua bulan kemudian, pada Rabu (27/5/2026), saat jemaah kembali memadati masjid yang sama untuk menunaikan Salat Idul Adha, gaung proyek raksasa itu tak lagi terdengar. Tak ada sepatah kata pun tentang menara tertinggi di Nagoya. Tak ada lagi kabar tentang finalisasi lahan.
Lift dan Teh Tarik, Bukan Menara
Di atas mimbar yang sama, Asman berbicara tentang hal-hal yang lebih membumi. Dalam sambutannya sebelum salat Idul Adha, ia mengucapkan terima kasih karena jumlah hewan kurban meningkat—dari 4 sapi menjadi 7 sapi, dan dari 13 kambing menjadi 16 kambing. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para pengurus masjid yang mulai merapikan tata kelola, termasuk menata pohon-pohon di lingkungan masjid.
“Yang gondrong sekarang sudah rapi, sudah disalon seperti rambut,” ujarnya diselingi gelak kecil jemaah.
Yang paling mendekati “proyek besar” dalam sambutan kali ini hanyalah rencana pemasangan lift. Asman mengakui bahwa fasilitas lift masih belum jadi, sehingga jemaah yang salat di lantai tiga masih harus memegang pagar tangga. Ia membuka peluang partisipasi masyarakat untuk menyelesaikan lift tersebut.
“Sekarang pagar tangga itu dipegang terus sampai ke lantai tiga karena liftnya belum jadi. Ya, ini memang perlu kebersamaan kita bersama untuk hal-hal yang lebih besar,” katanya.
Tak ada lagi cerita tentang gedung tertinggi. Sebaliknya, Asman justru melontarkan cita-cita yang lebih sederhana: sebuah kafe teh tarik di rooftop masjid.
“Cita-cita saya di atasnya itu ada teh tarik juga, Pak Ustaz. Ada kafe anak muda, tapi kalau waktu salat anak-anak muda ini berhenti dia ngopinya, dia juga ikut salat. Kemudian sambung lagi ngopi. Diskusinya di masjid, jangan di warung kopi lagi,” ujarnya disambut tawa dan gemuruh takbir jemaah.
Apa yang Terjadi?
Dari mimbar yang sama, dengan jemaah yang tak kalah melimpah, perbedaan narasi sangat terasa. Pada Maret, semangat yang berkobar: menara tertinggi, kubah Madani, finalisasi lahan. Pada Mei, realitas yang mengemuka: lift yang belum jadi, kabel listrik yang masih ditarik, dan sound system yang masih perlu ditingkatkan.
Tidak ada penjelasan resmi dari Yayasan Arafah Batam maupun dari Asman Abnur sendiri tentang status proyek Menara Madani tersebut. Apakah lahan yang disebut sedang difinalisasi mengalami kendala? Apakah ada perubahan skala prioritas? Ataukah cita-cita setinggi langit Nagoya itu hanya sekadar pengobar semangat di hari raya?
Sementara itu, Pjs. Chief Executive Officer Masjid Jabal Arafah, H. Haruna Hasyim, Lc., yang membawakan acara, juga tidak menyinggung sedikit pun tentang proyek gedung tertinggi tersebut. Fokus panitia hari itu adalah mengatur saf salat yang masih kosong, mengimbau jemaah untuk naik ke lantai dua dan tiga, serta mengumumkan jadwal penyembelihan hewan kurban pukul 08.30 WIB.
Bagi jemaah yang hadir pada kedua hari raya tersebut, keheningan kabar proyek menara menjadi tanda tanya tersendiri. Seorang jemaah yang enggan disebut namanya mengatakan, “Waktu Idul Fitri dulu semangat sekali beliau bicara soal gedung tertinggi. Sekarang tidak ada sama sekali. Mungkin masih diproses, atau mungkin ada kendala teknis.”
Yang jelas, hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Yayasan Arafah Batam maupun Asman Abnur mengenai kelanjutan proyek Menara Madani. Apakah cita-cita itu akan kembali menggema di Idul Fitri mendatang, atau lenyap begitu saja seperti takbir yang surut setelah salat, waktu yang akan menjawab.


