Opini
Beranda » Berita » Ironi Loyalitas di Balik Layar “Kocok Ulang” Politik

Ironi Loyalitas di Balik Layar “Kocok Ulang” Politik

ilustrasi politisi yang sedang memikat pemilihnya dengan koin yoyo.

TERASBATAM.ID Dunia politik di Kota Batam kembali menyuguhkan anomali yang menarik untuk disimak. Secara mengejutkan, Partai NasDem mengganti Wali Kota sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, dari posisinya sebagai Ketua DPW NasDem Kepulauan Riau. Langkah ini menjadi awal dari spekulasi perombakan besar yang dikabarkan bakal menyentuh posisi Ketua DPD NasDem Kota Batam dengan memunculkan nama figur muda, Randi Zulmariadi, yang merupakan putra dari mantan Wali Kota Batam, Muhammad Rudi.

Fenomena “kocok ulang” ini tampaknya tidak hanya melanda partai besutan Surya Paloh. Sebuah partai lain yang identik dengan warna hijau pekat dan jaringan massa militan juga dikabarkan tengah bersiap menggeser pimpinannya di tingkat Kota Batam dengan figur senior. Kabar yang beredar menyebutkan bahwa faktor ketidakharmonisan antara Ketua Umum partai dengan pemimpin nomor satu di Batam menjadi pemicu utamanya.

Gejala pergeseran pimpinan partai selepas pemilihan umum setahun silam ini menunjukkan sebuah realitas pahit. Padahal, jika ditelaah dari sisi kinerja, figur-figur yang digeser ini terbukti telah bekerja maksimal dengan indikator perolehan suara yang signifikan. Namun, dalam politik, ilmu pasti dan prestasi numerik sering kali harus bertekuk lutut di hadapan variabel lain.

Sebagaimana kutipan legendaris dari Winston Churchill:

“Dalam politik, tidak ada kawan abadi atau lawan abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi.”

Ujian Nyali Penegak Etik di Pulau Dompak

Kondisi di Kepulauan Riau saat ini membuktikan bahwa loyalitas dan prestasi bisa menjadi sangat cair. Politik memang sangat dinamis; ukuran keberhasilan di lapangan tidak selalu linier dengan posisi di struktur kekuasaan. Ada sisi subjektivitas, atau faktor like and dislike, yang tetap menjadi penentu paling kentara dalam menjaga kedekatan dengan pusat kekuasaan. Waktu yang akan menjawab apakah perombakan ini merupakan strategi menuju pemenangan di masa depan, ataukah sekadar upaya pembersihan barisan bagi mereka yang dianggap tak lagi sejalan.