TERASBATAM.ID – Provinsi Kepulauan Riau kembali menjadi tuan rumah forum bilateral strategis antara Indonesia dan Malaysia. Gubernur Kepri, Ansar Ahmad, secara resmi membuka Persidangan Tim Teknik dan Kelompok Kerja Pembangunan Sosial Ekonomi Malaysia-Indonesia (Sosek Malindo) ke-22 Tahun 2026 di Wyndham Panbil Hotel, Batam, Senin (22/6/2026). Forum yang berlangsung hingga 25 Juni ini diharapkan menjadi momentum memperkuat sinergi pembangunan di kawasan perbatasan kedua negara.
Forum Sosek Malindo ke-22 mempertemukan para pemangku kepentingan dari empat wilayah, yakni Provinsi Kepulauan Riau, Provinsi Riau, Negeri Johor, dan Negeri Melaka. Kehadiran para delegasi ini menandai komitmen bersama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah perbatasan melalui berbagai program kerja sama sosial dan ekonomi.
Dalam sambutannya, Gubernur Ansar Ahmad menegaskan bahwa forum ini memiliki peran strategis dalam mempererat hubungan lintas negara. Menurutnya, pertemuan rutin ini menjadi wadah penting bagi para pemangku kepentingan untuk merumuskan kebijakan yang berdampak langsung pada pertumbuhan wilayah perbatasan.
“Pertemuan ini sangat penting karena menghadirkan para pemangku kepentingan dari Johor, Melaka, Riau, dan Kepulauan Riau. Melalui forum ini, berbagai bentuk kerja sama dapat terus diperkuat sehingga wilayah perbatasan dapat tumbuh, maju, dan berkembang di masa mendatang,” ujar Ansar.
Gubernur juga memaparkan potensi besar yang dimiliki Kepulauan Riau sebagai provinsi kepulauan dengan 2.028 pulau, di mana 394 di antaranya berpenghuni. Letak geografis yang berbatasan langsung dengan Malaysia, Singapura, Vietnam, dan Kamboja menjadikan Kepri sebagai daerah strategis di jalur pelayaran internasional Selat Malaka.
“Setiap tahun lebih dari 80 ribu kapal melintasi Selat Malaka dan sekitar 70 juta kontainer bergerak melalui jalur perdagangan internasional ini. Posisi strategis tersebut menjadikan Kepri sebagai salah satu daerah tujuan investasi unggulan di Indonesia,” jelasnya.
Untuk mendukung pertumbuhan investasi, Ansar menyebutkan sejumlah fasilitas khusus yang diberikan pemerintah pusat kepada Kepri, di antaranya kawasan Free Trade Zone (FTZ) di Batam, Bintan, dan Karimun, serta lima Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang fokus pada industri, teknologi digital, pariwisata, kesehatan, dan energi.
Ia juga menyoroti pengembangan KEK Nongsa Digital Park sebagai pusat data dan teknologi informasi yang terintegrasi dengan Singapura, serta KEK Batam yang tengah dipersiapkan untuk mendukung layanan kesehatan bertaraf internasional. Dengan 98 persen wilayahnya berupa lautan, sektor maritim juga menjadi tulang punggung pembangunan daerah.
Menutup sambutannya, Ansar mengajak seluruh peserta untuk memanfaatkan forum ini sebagai ajang memperkuat sinergi dan menghasilkan program-program nyata bagi masyarakat perbatasan. “Ini adalah kerja mulia. Jika kerja sama ini berhasil dan memberikan manfaat bagi masyarakat, maka akan menjadi catatan kebaikan bagi kita semua. Mari bersama-sama membangun kawasan perbatasan yang lebih maju, sejahtera, dan berdaya saing,” pungkasnya.


