Kepri
Beranda / Kepri / 1.142 Titik Panas Terdeteksi di Pulau Bintan, Ancaman Karhutla Meningkat

1.142 Titik Panas Terdeteksi di Pulau Bintan, Ancaman Karhutla Meningkat

Tampak sejumlah lahan masih terbakar di Desa Berakit Bintan, Rabu (25/03/2026). Asap dari lahan yang terbakar terlihta membumbung ke udara.

TERASBATAM.ID — Ancaman kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Kepulauan Riau meningkat seiring musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Stasiun Meteorologi Raja Haji Fisabilillah Tanjungpinang mencatat sebanyak 1.142 titik panas atau hotspot terdeteksi di Pulau Bintan sepanjang Januari hingga Agustus 2026.

Dari total 1.142 titik panas tersebut, sebaran terbanyak berada di Kabupaten Bintan dengan 1.124 titik. Sementara itu, 18 titik panas lainnya terdeteksi di wilayah Kota Tanjungpinang.

Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Raja Haji Fisabilillah (RHF) Tanjungpinang, Ahmad Kosasih, menyampaikan bahwa jumlah titik panas pada periode ini tergolong tinggi. Kondisi ini dipicu oleh cuaca kering serta periode hari tanpa hujan yang berlangsung cukup panjang, khususnya selama bulan Juli hingga Agustus 2026.

“Beberapa titik panas akibat sebaran kebakaran lahan bahkan tidak terdeteksi oleh satelit BMKG karena keterbatasan resolusi satelit yang tidak dapat menangkap titik api secara menyeluruh,” ujar Kosasih saat dihubungi dari Tanjungpinang, Senin (31/8/2026).

Kosasih menjelaskan, vegetasi dan lingkungan yang kering membuat lahan terbuka di Pulau Bintan sangat rentan memicu munculnya api serta mempercepat penyebarannya. Oleh karena itu, BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan tidak membuka lahan dengan cara dibakar.

TNI AU Gelar Simulasi “Force Down” di Batam

Dampak di Tanjungpinang

Kondisi kerentanan karhutla juga meluas ke area perkotaan. Wakil Wali Kota Tanjungpinang Raja Ariza mengungkapkan, sepanjang Januari hingga Agustus 2026 telah terjadi 150 peristiwa karhutla di Tanjungpinang dengan total area terdampak mencapai sekitar 68 hektare.

Menurut Ariza, karakteristik wilayah Tanjungpinang yang didominasi semak belukar dan lahan kosong yang berbatasan langsung dengan kawasan permukiman meningkatkan risiko bahaya bagi warga.

“Cuaca panas dan kering membuat vegetasi sangat mudah terbakar. Kami meminta seluruh jajaran dan masyarakat, apabila menemukan titik api, untuk segera berkoordinasi dengan instansi terkait agar penanganan awal dapat dilakukan sejak dini,” kata Ariza.

Guna mengantisipasi perluasan dampak karhutla, pemerintah daerah bersama pemadam kebakaran dan instansi terkait memperketat pemantauan di lapangan serta menyiagakan personel penanggulangan bencana di titik-titik rawan.

10 Unit X-Ray Perkuat Deteksi Dini TBC di Kepri