Profil
Beranda / Profil / Dari Perbankan ke Kebun Melon, Perjalanan Pembuktian Wahyu Ibrahim

Dari Perbankan ke Kebun Melon, Perjalanan Pembuktian Wahyu Ibrahim

Petani hortikultura Wahyu Ibrahim Kisworo (kanan) bersama istrinya, Erna Eka Agustin, meninjau hasil panen buah melon kualitas ekspor di dalam greenhouse milik mereka di Malang, Jawa Timur. Ibrahim memproduksi berbagai varietas melon unggulan seperti Inthanone dan Lavender dengan bobot mencapai 4,5 kilogram per buah.

TERASBATAM.ID — Perjalanan karier seseorang kerap berbelok jauh dari latar belakang pendidikannya. Hal tersebut dialami Wahyu Ibrahim Kisworo (43), sarjana teknik mesin yang sempat mengukir karier cemerlang di dunia perbankan nasional sebelum akhirnya banting setir menjadi petani melon sukses di Kabupaten Malang, Jawa Timur.

 

Alumnus Fakultas Teknik Universitas Merdeka Malang ini mengawali karier profesionalnya di salah satu bank nasional untuk wilayah Jawa Timur. Kendati berhasil meraih sejumlah posisi strategis dan mencatatkan kinerja moncer, Ibrahim memilih mengundurkan diri dari industri keuangan tersebut karena dorongan pribadi untuk mencari mata pencarian yang dinilainya lebih menentramkan.

 

Ia kemudian beralih menekuni budidaya hortikultura, khususnya tanaman melon dengan sistem penanaman di dalam greenhouse.

TNI AU Gelar Simulasi “Force Down” di Batam

 

Langkah awal di dunia pertanian tak berjalan mulus. Ibrahim mengaku sempat hampir putus asa saat panen perdananya gagal memenuhi ekspektasi serta tidak sebanding dengan modal dan tenaga yang dikeluarkan.

 

“Awalnya saya sempat hampir putus asa, bahkan greenhouse sempat mau saya bakar karena hasil panen perdana tidak sesuai harapan,” ujar Ibrahim saat ditemui di Tumpang, Kabupaten Malang.

 

10 Unit X-Ray Perkuat Deteksi Dini TBC di Kepri

Dukungan dari keluarga memunculkan kembali optimisme Ibrahim. Ia memperluas skala usahanya hingga kini mengelola tujuh unit greenhouse dengan berbagai ukuran, mulai dari 10 x 35 meter hingga 11 x 45 meter.

 

Ibrahim membudidayakan sejumlah varietas melon premium dan kualitas ekspor, di antaranya varietas The Blues, Sweet Net, Sakata asal Jepang, Inthanone asal Belanda, serta Lavender asal Thailand. Dari sejumlah varietas tersebut, melon Inthanone dan Lavender menjadi produk unggulannya dengan bobot buah mampu mencapai 4,5 kilogram per butir.

 

Dengan masa tanam hingga panen berkisar 60 sampai 75 hari, Ibrahim kini dibantu oleh tujuh pekerja untuk menangani perawatan rutin hingga proses penyerbukan bunga melon. Selain menggunakan media tanam konvensional, ia juga mulai mengembangkan teknik budidaya hidroponik serta meracik formulasi pupuk mandiri yang ditargetkan dapat dimanfaatkan oleh petani melon lainnya di daerah tersebut.

Perkuat Hilirisasi Timah, STANIA Gandeng Perusahaan Asal Singapura