TERASBATAM.ID — Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Muhammad Ali meninjau langsung kesiapan prajurit dan armada tempur TNI Angkatan Laut di Vladivostok, Rusia, Jumat (24/7/2026). Inspeksi langsung ini dilakukan guna memastikan kesiapan taktis dan integrasi personel sebelum dimulainya Latihan Bersama (Latma) Orruda 2026 antara TNI AL dan Angkatan Laut Rusia.
Setibanya di pangkalan militer Vladivostok, kedatangan Ali disambut oleh Wakil Komandan Armada Pasifik Angkatan Laut Rusia Laksamana Denis Valentinovich Berezovsky. Pimpinan kedua angkatan laut tersebut menggelar pertemuan di atas kapal perang KRI I Gusti Ngurah Rai-332 yang telah lebih dahulu sandar di pelabuhan militer tersebut pada Kamis (23/7/2026).
KRI I Gusti Ngurah Rai-332 mengerahkan 145 personel gabungan yang mencakup tim pasukan khusus dari Komando Pasukan Katak (Kopaska). Kapal perang buatan dalam negeri tersebut sebelumnya sempat melakukan transit di Busan, Korea Selatan, untuk pengisian bekal ulang sebelum melanjutkan pelayaran menuju wilayah perairan timur Rusia.
Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksamana Pertama Tunggul menjelaskan, diplomasi militer melalui Latma Orruda 2026 mengusung tema Ensuring Safety at Sea. Latihan ini diselenggarakan untuk memperkuat kerja sama praktis, membangun kepercayaan antar-angkatan laut, serta mendukung stabilitas keamanan maritim global.
“Kegiatan ini menegaskan komitmen bersama TNI AL dan Russian Navy dalam menjaga keamanan wilayah perairan melalui kesiapsiagaan, kepercayaan, dan kerja sama praktis demi mendukung perdamaian serta kemakmuran global,” ujar Tunggul dalam keterangan resminya, Sabtu (25/7/2026).
Latma Orruda 2026 merupakan edisi kedua dari latihan bilateral ini setelah kesuksesan edisi perdana yang digelar di Perairan Jawa pada tahun 2024. Dalam latihan edisi kedua di Vladivostok ini, fokus materi tempur akan mencakup dua tahapan utama, yakni fase pelabuhan (harbour phase) dan fase laut lepas (sea phase).
Selain taktik pertempuran laut konvensional, prajurit dari kedua negara juga dijadwalkan menguji skenario penanggulangan ancaman asimetris modern, termasuk simulasi menghadapi serangan wahana tanpa awak (drone laut).


