TERASBATAM.ID — Digitalisasi ekonomi di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menunjukkan akselerasi signifikan dengan cakupan yang semakin meluas, mulai dari pusat perbelanjaan modern hingga merambah ke pasar tradisional dan rumah ibadah. Hingga awal tahun 2026, akumulasi nilai transaksi menggunakan sistem pembayaran QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) di wilayah tersebut telah menembus angka Rp 11,5 triliun.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepri, Rony Widijarto Purubaskoro, mengungkapkan bahwa pencapaian fantastis tersebut didominasi oleh transaksi ritel pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dengan rata-rata nominal di bawah Rp 500.000. Tingginya angka akumulasi ini menjadi indikator kuat bahwa masyarakat di Kepulauan Riau sangat adaptif terhadap transformasi digital.
“QRIS ini ditujukan untuk pembayaran ritel dengan batas maksimal Rp 10 juta per transaksi. Namun, total akumulasi kita sudah mencapai Rp 11,5 triliun. Ini menunjukkan masyarakat Kepri sangat adaptif terhadap digitalisasi,” ujar Rony dalam kegiatan Bincang Media di Kantor BI Kepri, Batam, Selasa (3/3/2026).
BI Kepri kini tengah mendorong perluasan ekosistem digital agar tidak hanya berhenti pada sisi penjualan atau hilir saja, tetapi juga menyentuh rantai pasok (supply chain). Harapannya, para pedagang makanan atau pelaku usaha ritel dapat mulai bertransaksi secara digital saat membeli bahan baku di pasar tradisional. Langkah transformasi ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi usaha serta mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap penggunaan uang tunai.
Selain sektor komersial, BI juga menyasar penguatan ekonomi syariah melalui pemanfaatan QRIS di masjid-masjid, terutama disaat bulan Ramadan. Sistem ini dioptimalkan untuk mempermudah jamaah dalam menyalurkan zakat, infak, dan sedekah, serta membantu pengurus masjid dalam mengelola kebutuhan operasional seperti pembayaran tagihan listrik dan air.
“Dengan QRIS, jamaah bisa berdonasi kapan saja. Pengurus masjid pun lebih mudah dalam pencatatan dan pengelolaan keuangan,” jelas Rony.
Upaya memperkuat ekosistem ekonomi syariah dan pengembangan UMKM ini juga akan diwadahi melalui acara Kurma yang dijadwalkan berlangsung pada 24–28 Maret 2026. Integrasi pasar tradisional dan masjid ke dalam ekosistem digital diharapkan dapat memperkokoh inklusi keuangan di sektor informal, sekaligus menjadikan digitalisasi sebagai bagian tak terpisahkan dari gaya hidup masyarakat di Kepulauan Riau.


