TERASBATAM — Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Amsakar Achmad, menegaskan seluruh pelaku industri data center di Kota Batam wajib membangun instalasi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) atau desalinasi air laut secara mandiri. Kebijakan ini dikeluarkan guna memastikan pasokan air bersih dari waduk untuk kebutuhan masyarakat tidak terganggu oleh konsumsi masif industri padat modal tersebut.
Langkah ini merespons eskalasi krisis air di permukiman warga serta gelombang protes masyarakat yang belakangan menyasar kawasan industri. Pada Sabtu (19/9/2026) lalu, ratusan warga menggeruduk kawasan KEK Nongsa akibat terhentinya aliran air perpipaan ke rumah-rumah, sementara pasokan ke fasilitas data center tetap mengalir lancar dari jalur pemipaan khusus Waduk Duriangkang.
Amsakar menyatakan, pemenuhan kebutuhan air untuk data center—terutama di kawasan Kabil dan KEK Nongsa—wajib beralih ke sumber air laut olahan. Dari 10 rencana pengembangan data center, satu fasilitas yang telah beroperasi telah menyambut skema ini, dan disusul oleh pengembang lainnya.
“Kita ingin investasi tumbuh, tetapi kebutuhan pendukungnya juga harus dipikirkan. Untuk industri yang membutuhkan air dalam jumlah besar, kita dorong mereka memiliki sumber air sendiri melalui teknologi SWRO,” tegas Amsakar di Batam Centre, Rabu (23/9/2026).
Melalui kebijakan ini, BP Batam memproyeksikan penambahan kapasitas produksi air SWRO sebesar 750 liter per detik pada tahap awal, dan ditargetkan meningkat hingga 1.000 liter per detik dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Jika terdapat kelebihan kapasitas (excess capacity) dari fasilitas SWRO industri tersebut, BP Batam membuka peluang untuk menyalurkannya ke jaringan permukiman warga guna memperkuat ketahanan air bersih daerah.
Sementara itu, pihak pengelola kawasan mengakui bahwa aksi unjuk rasa warga yang menyasar KEK Nongsa merupakan dampak dari krisis air di permukiman sekitar. Direktur HR Nongsa Digital Park (NDP), Nara Dewa, menyebutkan bahwa kawasan industri kerap menjadi tempat warga meluapkan keluhan akibat ketimpangan pasokan tersebut.
“Penyediaan air untuk masyarakat warga itu kan bukan di kami, itu di SPAM dan ABH. Jadi kami pun mau menanggapi susah juga karena ini bukan tugas kami,” ungkap Nara Dewa.
Ia menambahkan, pihak PT Air Batam Hilir (ABH) sebenarnya tengah menuntaskan pengerjaan jaringan interkoneksi pipa dari Waduk Duriangkang untuk mengatasi kekeringan di pemukiman warga Nongsa. Langkah tersebut diharapkan dapat segera menyelesaikan kelangkaan air bersih di wilayah terdampak.


