Batam Belum Maksimal Meraup Untung dari Konser Taylor Swift di Singapura

TERASBATAM.ID: Praktisi industry pariwisata di Batam menilai bahwa konser artis terlaris sepanjang sejarah Taylor Swift di Singapura yang dimulai 2 hingga 9 Maret 2024 mendatang tidak memberikan keuntungan yang signifikan bagi Batam sebagai kota transit. Terbatasnya transportasi ke Singapura menjadi penyebab peran Batam tidak maksimal.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Batam Jimmy Ho kepada www.terasbatam.id mengatakan, konser Taylor Swift yang akan digelar di Singapura dilaksanakan pada malam hari dan menyulitkan Batam sebagai kota transit yang meraup keuntungan maksimal atas konser tersebut.

“seandainya operasional ferry Batam ke Singapura itu bisa melayani mereka untuk kembali ke Batam, maka keuntungan yang bisa kita rahi akan maksimal sekali. Kalau saat ini seusai konser mereka tetap menginap di Singapura, tidak bisa kembali ke Batam karena ferry sudah tidak beroperasi,” kata Jimmy Ho, putera pertama dari pengusaha property Hartono alias Akau.

Jam operasional terakhir Ferry rute Batam ke Singapura dan sebaliknya sekitar pukul 21.00 WIB, dan dilanjutkan kembali pada pukul 06.00 WIB keesokan harinya. Operasional belum dilakukan selama 24 jam.

Pemilik sejumlah property hotel di Kawasan Harbour Bay Batam ini mengakui, bahwa tingkat hunian hotel rata-rata pada weekday di Batam sudah relative baik berkisar antara 60 hingga 80 persen, sedangkan pada weekend Ocupancy Rate mencapai 90 persen.

“Tetapi saya lihat nanti setelah seusai konser, fans dari Indonesia akan ke Batam, itu biasanya demikian untuk sekalian jalan-jalan. Kita belum dapat keuntungan sebelum atau sesudahnya acaranya,” kata Jimmy yang juga membawahi Hotel Marriott Harbour Bay Batam ini.

Sementara itu Salah Satu Sales Operator Sindo Ferry menyebutkan bahwa tidak ada peningkatan yang signifikan dari sisi penjualan tiket pada 1 hingga 9 Maret 2024 mendatang yang dilihat dari sisi pemesanan.

“biasa aja, masih tersedia tiket ke Singapura pada waktu yang disebutkan itu,” katanya yang enggan menyebutkan namanya.

Menurutnya, hal ini berbeda pada saat konser Coldplay pada Januari lalu, karena banyak fans di Indonesia yang tidak kebagian tiket menonton pada saat konser di Jakarta, mereka beralih menonton konsernya di Singapura.

“kalau pada saat Coldplay kemarin jumlahnya lumayan banyak yang bergerak ke Singapura, kalau kali ini landai-landai saja,” katanya.