Review Makanan yang Menyesatkan, Antara Ngonten atau Iklan ? Tak Jelas!!

TERASBATAM.ID: Beberapa waktu lalu sejumlah video di social media seperti Tiktok dan Instagram berseliweran yang berisi tentang review satu tempat makan sunda ala prasmanan di Kawasan Batam Centre, Batam, Kepulauan Riau. Dengan Teknik pengambilan video yang apik, makanan yang disajikan tampil cukup bagus, plus gaya menyantap makanan yang menggugah selera oleh reviewer seperti mempertegas bahwa tempat makan tersebut layak untuk dicoba.

Sayang sekali tidak ada disclamer atau pernyataan tentang produk multimedia yang ditayangkan itu, seperti keharusan menyatakan bahwa review makanan dalam bentuk video itu merupakan endorsement atau iklan berbayar yang menggunakan seseorang dengan pengaruh yang luas, pengaruh ini diindikasikan melalui jumlah followers di akun media social para reviewer.

Produk video dari Content Creator yang ditayangkan di akun media social mereka seperti layaknya testimoni dari seseorang tanpa tekanan, tanpa ancaman dan tanpa bayaran. Sehingga penonton yang masih awam menilai bahwa video tersebut seolah-olah murni sebuah pengakuan atas produk makanan yang di review mereka.

Namun seiringnya waktu, penonton mulai menyadari bahwa apa yang dilakukan oleh para content creator, terutama soal review tempat makanan merupakan produk berbayar. Misi utama mereka bagaimana penonton tertarik dan datang ke tempat tersebut. Pemilik resto atau tempat makan tentu punya kewajiban kepada mereka.

Untuk membuktikan testimoni para content creator tentang resto Sunda di Batam Centre itu, www.terasbatam.id datang membuktikannya sendiri. Apakah benar citarasanya lebih unggul dibandingkan tempat makan sunda yang sudah lebih dulu eksis di Batam. Ternyata jauh panggang dari api, bahkan sistem harga terhadap makanan yang disajikan saja sudah membuat selera makan menjadi berkurang, sebab makanan dihitung dan dibayar sebelum disantap, berbeda dengan warung sunda yang sudah eksis puluhan tahun di kawasan Nagoya itu, makan dulu dengan lega, baru bayar.

Bahkan untuk membuat tenang para penikmatnya, warung sunda di kawasan Nagoya itu selalu membalikkan daftar harga yang sudah ditulis para waitress mereka. Sehingga konsumen tidak melihat dulu berapa harga makanan yang disantapnya.

Salah seorang sosialita di Kota Banda Aceh Pipit Rahman bercerita bagaimana seorang Selebgram ternama yang dikenal dengan sejumlah produk pakaian dan kosmetiknya ingin menikmati makanan seafood di salah satu daerah di Banda Aceh yang cukup popular.

“Sebelum hari H, timnya datang ke resto tersebut dan berbicara dengan pemilik restoran yang kebetulan partnet bisnis saya. Mereka akan makan disana, dengan jumlah sekian orang, estimasi biaya untuk makanan mereka sekitar Rp 10 Juta. Tetapi mereka ingin imbal balik berupa review tempat makan tersebut, plus photo-photo selebgram di lokasi resto,” kata Pipit.

Pemilik resto itu mengaku terkejut dengan tawaran dari tim selebgram itu, bahwa kompensasi yang ditawarkan tidak masuk akal.

“dia menolak tawaran kerjasama seperti itu. Orang sudah banyak datang kesana sebelum ada yang ngonten-ngonten disana. Finally si selebgram dan timnya akhirnya datang juga, tetapi mereka minta jangan ada photo-photo mereka yang beredar. Kata kawanku, lantak kelenlah, yang penting habis makan bayar,” kata Pipit sambil tertawa.

Pengamat Komunikasi dari Universitas Negeri Padang (UNP) Novrizal Sadewa mengatakan, ada perbedaan yang luar biasa di era distrupsi media saat ini, dimana produk berbayar seperti Conten Video yang diproduksi content creator di akun pribadi mereka tidak dijelaskan  atau diberikan Disclamer bahwa konten video tersebut berbayar, atau dengan kata lain iklan.

“kalau misalnya di video itu disebutkan bahwa ini iklan, tentu penonton sudah tahu resikonya. Sehingga kalau mereka tersesat setelah mengikuti iklan itu yang lebih legowo, masalahnya mereka seperti menonton tayangan CCTV yang real, ternyata sebuah drama,” kata Sadewo.

Menurut Sadewo, rata-rata tempat makan yang menggunakan para content creator hanya bertahan sebentar saja, naik ketika tayangan videonya viral, namun akan kembali turun bahkan gulung tikar ketika pelanggan tidak menemukan bukti atas testimoni para Content Creator itu.

Sementara di Batam saat ini bermunculan para konten-konten creator yang menggarap review makanan, dari yang iseng-iseng dengan kamera handphone dan dikerjakan sendiri, atau memiliki tim yang lengkap layaknya professional.

Beberapa hal yang cukup menjadi panduan bagi mereka yang sering menonton review makanan itu agar tidak tersesat, selalu perhatikan komentar-komentar dari netizen. Biasanya komentar yang mayoritas negative terhadap tayangan itu bisa menjadi panduan awal.

“apa katanya makan kepiting black pepper disana Cuma Rp 99 ribu, aku makan ditagih Rp 300 ribu. Asyik membohongi orang saja,” kata salah seorang netizen menanggapi tayangan video salah satu content creator yang videonya sering viral.

Selain soal harga, citarasa menjadi masalah utama, walaupun tiap taste seseorang berbeda namun tetap ada benang merah sebuah citarasa yang dapat diterima oleh banyak orang, dengan sebuah citarasa yang memang tidak enak sama sekali.