TERASBATAM.ID — Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Tirta Mayang Kota Jambi bergerak cepat memaksimalkan pelayanan bagi masyarakat. Di tengah ancaman musim kemarau panjang yang berdampak pada menurunnya debit air Sungai Batanghari, tim Tirta Mayang memilih turun langsung menemui warga Kebun Bohok, RT 21, Kelurahan Paal Merah, Kota Jambi, Senin (21/9/2026).
Kehadiran tim dari Perumda Tirta Mayang ini menjadi angin segar bagi warga setempat yang telah puluhan tahun merindukan akses air bersih perpipaan.
Asisten Manager Bisnis Wilayah 1 Perumda Tirta Mayang, Rina Anderani, menegaskan bahwa komitmen pelayanan terbaik tetap menjadi fokus utama perusahaan, meski tantangan operasional akibat musim kemarau cukup berat.
“Apalagi saat ini musim kemarau panjang, debit air Batanghari menurun dan pelayanan pasti terganggu. Namun, kami memastikan pelayanan tetap berjalan optimal dan menjadi prioritas utama. Ini adalah komitmen kami untuk menghadirkan layanan yang lebih profesional ke depannya,” kata Rina di hadapan puluhan warga, didampingi Staf Divisi Bisnis Wilayah 1, Kemas Rayhan.
Pertemuan yang berlangsung hangat di salah satu rumah warga RT 21 tersebut dipenuhi puluhan ibu-ibu yang antusias mendengarkan sosialisasi. Wajah-wajah bahagia tampak terpancar dari warga yang menaruh harapan besar agar pemukiman mereka segera teraliri air bersih.
Salah seorang warga Kebun Bohok, Siva, meluapkan keluh kesahnya di hadapan tim Tirta Mayang. Selama puluhan tahun, warga hanya mengandalkan air sumur untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, musim kemarau membuat sumur-sumur warga mengering total.
“Di lokasi kami ini sudah puluhan tahun tidak bisa merasakan yang namanya air bersih. Selama ini kami mengandalkan air sumur, tetapi saat kemarau seperti sekarang sumurnya kering. Kami harus beli air satu tedmon seharga Rp70 ribu dan itu cuma cukup untuk dua hari,” ungkap Siva.
Siva kalkulasikan, biaya membeli air tangki sangat membengkak hingga ratusan ribu rupiah per bulan. Kondisi ini kian menyulitkan warga, terutama saat memasuki akhir bulan.
“Bila per dua hari saja beli air Rp70 ribu, dikali satu bulan sudah berapa? Kalau ada PDAM pasti jauh lebih hemat, karena per kubiknya cuma Rp4.000-an. Kalau lagi tidak ada uang di akhir bulan, kami terpaksa mandi di pondok atau di tempat keluarga karena tidak ada biaya lagi untuk beli air,” tambahnya.
Warga berharap permohonan pemasangan jaringan air bersih yang mereka ajukan dapat segera diproses oleh pihak Perumda Tirta Mayang.
Menanggapi hal tersebut, Staf Divisi Bisnis Wilayah 1 Perumda Tirta Mayang, Kemas Rayhan, menjelaskan kondisi teknis yang sedang dihadapi. Surutnya air baku Sungai Batanghari memang memicu gangguan distribusi umum, sehingga beberapa pengajuan pemasangan baru yang membutuhkan penanaman pipa utama sempat tertunda hingga pasokan air kembali normal.
Meski demikian, pihak Tirta Mayang memberikan perhatian khusus bagi usulan warga RT 21 Kebun Bohok.
“Untuk warga RT 21 yang melakukan pengajuan pemasangan, kita akan usahakan secepatnya agar bisa terealisasi,” ujar Kemas Rayhan.
(Reporter: Dalil Harahap)


