Mengintip Desa Tanjung Baru yang Ditinggal Penghuninya Merantau : Isman Rambe tidak Mau Kampung Ini Diambil Orang Lain dan Menjadi Kampung Mati
TERASBATAM.ID -Sebuah kampung di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara ditinggal oleh penghuninya. Kampung yang dinamakan Kampung Tanjung Baru tersebut terletak di Desa Huta Baru, Kecamatan Aek Bilah.
Salah satu alasan warga meninggalkan kampung tersebut adalah kesulitan akses. Berikut cerita singkatnya.
Kampung yang masuk wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan ini yang ironisnya kini jadi sepi, dulu awalnya ramai sekali. Dusun ini jauh dari permukiman warga lainnya. Paling Ujung.
Selain akses menuju lokasi yang terbilang sulit, jalan yang dilewati untuk menuju kampung tersebut juga tidak mulus dan dipenuhi bebatuan serta lumpur berkubang. Motor dan mobil sangat sulit melaluinya. Harus kendaraan gardan dua.
Akses jalan yang begitu sulit. Sinyal telekomunikasi tidak ada. Listrik juga tidak ada. Baru-baru ini ada sinyal berapa jam saja bertahan. Begitu juga listrik beberapa jam saja menyala mengunakan tenaga air.
Sepanjang jalan dari Desa Huta Baru menuju kampung Tanjung Baru ini tidak ditemui rumah warga sama sekali. Hanya ada sawah dan pohon karet.

Deretan rumah panggung kayu tampak lengang dan sepi di Dusun Tanjung Baru, Desa Huta Baru, Kecamatan Aek Bilah, Tapanuli Selatan. Akses jalan yang rusak parah serta minimnya fasilitas publik membuat mayoritas penduduk asli memilih meninggalkan kampung halamannya untuk merantau, hingga mengancam dusun pedalaman ini menjadi kampung mati. FOTO: DALIL HARAHAP
Dusun ini suasana masih terasa sejuk
meskipun sudah tidak ramai penduduknya. Suasana kampung Tanjung Baru terasa sejuk karena masih banyak pepohonan rindang. Salah satu warga sekitar yang bekerja sebagai petani masih bertahan dikampung. Tujuannya merawat kampung halamannya tersebut.
“Saya ingin merawat dan menjaga kawasan Tanjung Baru semampu saya, kata Isman Rambe saat ditemui di Kota Jambi beberapa waktu lalu.
Masih kata Isman (70), enam tahun lalu Dusun Tanjung Baru ini masih ramai. Saat itu jamannya Ali Tambunan. Ali Tambunan dulu bekerja di Kantor Camat Aek Bilah di simpang Biru. Ali Tambunan dulu sangat rajin kesana kemari mengurus kampung ini.
Apa pun persoalan dia yang maju dan mengurusnya kesana kemari, kenang Isman. Tapi allah lebih sayang sama dia (Ali Tambunan) dipanggil maha pencipta duluan. Disitulah Kampung ini mulai hilang auranya. Yang mengurus kampung kesana kemari tidak ada. Ada sih ada yang mengurus, tapi tidak secepat almarhum.
Lama makin lama makin tertinggal pembangunannya. Kampung mulai tidak terurus dan bantuan mulai tidak ada, sebut Isman yang sudah 30 tahun lebih tinggal di kampung tersebut.
Jaman dulu selagi ramai-ramainya kampung ini Kepala Keluarga (KK) mencapai 50 KK. Sekarang tinggal 10 KK kurang lebih, sebut Isman Tokoh Masyarakat Tanjung Baru ini.
Isman mengisahkan kenapa masyarakat Tanjung Baru pada memilih merantau ada beberapa faktor katanya, mulai akses jalan menuju kampung rusak tak ada pembangunan, akses begitu sulit, sinyal dan listrik tidak ada. Jadi ekonomi masyarakat lemah. Hasil tani tidak bisa dibawa ke kota.
Isman berandai- andai bisa- bisa kampung ini diambil alih orang lain. Karena orang pendatang pada beli tanah di Dusun Tanjung Baru ini. Karena orang luar kampung sudah ada yang beli tanah disana. Karena orang asli kampung ini sudah pada merantau ke Jambi semua. Sisa yang bertahan tinggal 10 KK kurang lebih. Yang 10 KK ini pun akan menyusul sebgian merantau juga, paparnya lagi.
Perlahan kampung ini bisa tinggal. Para perantau semua meninggalkanya. Tinggal rumahnya dan tanah saja di kampung. Rumah sudah buruk dan rusak tidak ada yang merawat. Tanah dan kebunnya tidak ada yang mengurus. Kebun sudah semak belukar menjadi hutan belantara. Orang tuanya, anaknya dan cucunya sudah dbawa merantau ke kota oleh kelurganya.
Disinggung mau tinggal di Jambi, Isman tidak mau di Jambi. Saya mau tinggal di Kampung Halam saja. Saya mau mengurus kampung halaman semampu saya dan sisa umur saya. Dan saya mau meninggal di kampung halaman, ceritanya sedih. Isman Rambe ke jambi mengunjungi anak perempuannya selama 2 bulan.
Kampung Tanjung Baru yang mayoritas bermarga Rambe. Dusun ini pemerintahannya di Kecamatan Aek Bilah berlokasi di Desa Biru.
Akses utama masuk ke kampungg Tanjung Baru ini dari simpamg Biru masuk melintasi beberapa Desa, diantaranya Desa Sigolang, Sipange, Sipagabu, Tapus Dolok, Tapus Godang, Huta Baru dan Tanjung Baru.
Pantauan media ini beberapa bulan lalu, mulai dari ibu Kota Tapsel yaitu Kota Sipirok. Akses infratuktur sangat minim pembangunannya. Pembangunan masih tertinggal. Baru-baru ini pembangunan ada di Kecamatan Arse dan Saipar Dolok Hole yaitu pembangunan jalan yang rusak dibangun kembali.
Bila masuk ke pedalaman masih jauh tertinggal. Pembangunan yang begutu lambat. Ada pembangunan jembatan di Sipange. Pembangunan jembatan dari Provinsi Sumatera Utara jaman kepemimpinan Gubernur Bobby Nasution.
Selain itu akses sangatlah sulit. Harus perhatian lebih pemerintahnya. Supaya anak rantau mau melirik kembali kampung halamanya. Dan membangun Desanya tentunya. Karena banyak kisah anak rantau pulang kampung mebangun Desanya.
Bila kondisi saat ini orang kampung masih berlomba-lomba bermigrasi merantau ke kota- kota maju.
Fenomena desa sepi penghuni akibat ditinggal merantau merupakan dampak nyata dari urbanisasi, di mana para pemuda dan usia produktif bermigrasi ke kota-kota besar atau luar negeri untuk mencari peluang ekonomi yang lebih baik.
Di Indonesia, fenomena ini sering memicu terbentuknya wilayah yang dijuluki “kampung mati”. Beberapa contoh wilayah yang menjadi sepi atau ditinggalkan karena faktor merantau dan minimnya akses yang lambat laun sepi dan ditinggalkan warganya karena akses jalan yang sulit serta warganya yang memilih merantau atau pindah rumah.
Kampung ini menyisakan deretan rumah kayu kosong karena generasi mudanya banyak yang pergi merantau ke kota hingga memilih menetap di sana.
Diantaranya kampung yang terisolasi di tengah hutan dan perbukitan, desa ini berangsur ditinggalkan hingga hanya menyisakan beberapa kepala keluarga karena warganya mencari kehidupan yang lebih baik di luar desa.
Dampak Utama bagi Desa yang ditinggal merantau diantaranya :
1. Penurunan Populasi Ekstrem: Desa didominasi oleh kelompok lansia (orang tua) dan anak-anak, sementara kelompok usia produktif hilang.
2. Kemunduran Ekonomi Lokal: Lahan pertanian terlantar dan warung-warung lokal gulung tikar karena kehilangan daya beli masyarakat.
3. Pudarnya Tradisi: Kegiatan gotong- royong, ronda malam, dan upacara adat perlahan menghilang karena kekurangan tenaga manusia.
4. Infrastruktur terbengkalai: Rumah-rumah kosong yang ditinggalkan menjadi rusak, ditumbuhi semak belukar, dan memicu kesan angker atau terbengkalai.
Isman berharap, jangan sampai kampung Tanjung Baru ini menjadi Kampung Mati. Sangat disayangkan bila sampai kejadian. Karena banyak kampung yang ditinggal seperti ini. Isman berharapa anak rantau pulanglah, apalagi yang sudah sukses pulanglah. Selain anak rantau yang membangun ini. Pemerintah diharapkan bukalah akses jalan yang memadai, listrik 24 jam dan sinyal 24 jam, harapnya.
Reporter : Dalil Harahap


