Mustahil Eksport Ayam ke Singapura Dilakukan dari Batam

TERASBATAM.ID: Tingginya kebutuhan ayam untuk pasar lokal serta terbatasnya lahan peternak yang memiliki status hukum yang jelas atau berstatus legal di Batam menyebabkan peluang untuk melakukan eksport ayam ke Singapura tidak mungkin dilakukan dalam waktu dekat ini.

Seperti PT Charoen Pokphand Jaya Farm Hatcahery Batam masih fokus untuk memenuhi kebutuhan local. PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk merupakan perusahaan produsen ayam pertama dari Indonesia yang mengeksport daging ayam beku ke Singapura awal bulan ini.

Kepala Personalia PT Charoen Pokphand Jaya Farm Hatcahery Batam Irfan, Sabtu (16/07/2022) lalu mengatakan, unit di Batam saat ini berfungsi untuk menjadi tempat penetasan bagi telur ayam menjadi anak ayam atau DOC (Day Old Chick) dan selanjutnya dikirim kepada peternak ayam yang memiliki kendang-kandang ayam.

“banyak peternakan ayam ada di sekitar pulau Galang dan Sembulang sana, tetapi mereka cek saja tidak memiliki izin,” kata Irfan.

Menurut Irfan, DOC yang dihasilkan oleh Charoen Pokphand Jaya Farm di Batam didistribusikan sepenuhnya untuk kebutuhan di Batam dan Provinsi Kepulauan Riau sebagaimana izin yang mereka miliki.

“tidak boleh sembarangan untuk mengirimkannya keluar, apalagi keluar negeri seperti Singapura,” kata Irfan.

Irfan mengakui bahwa di sekitar wilayah Batam seperti Pulau Bulang, Sembulang dan Galang ada banyak peternakan ayam yang dikelola oleh berbagai perusahaan, namun peternakan ayam tersebut masuk kategori illegal.

Pada 13 Juli 2022 lalu PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) secara resmi melakukan ekspor ayam ke Singapura. Sebanyak 50 ton ayam beku diekspor dari Indonesia ke Singapura pada Rabu, 13 Juli 2022.

Ini adalah pengiriman produk pertama di bawah pengaturan baru bagi perusahaan Indonesia untuk mengekspor ayam ke Singapura.

PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPI) yang merupakan anak usaha konglomerat makanan asal Thailand Charoen Pokphand mengatakan telah mendapatkan kontrak dengan importir Singapura untuk memasok 1.000 ton daging ayam hingga akhir tahun.

Terkait eksport ayam ke Singapura tersebut Irfan menegaskan bahwa hal itu menjadi domain kantor pusatnya, sedangkan tidak ada informasi bahwa eksport akan dilakukan melalui Batam walaupun dari sisi geografis paling dekat dengan Singapura.

“Tidak ada direncanakan dilakukan melalui Batam, itu bukan sesuatu yang mudah,” kata Irfan.

Sementara itu Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Batam Mardanis mengatakan, bahwa sejak setahun lalu peternakan ayam yang banyak beroperasi di sekitar Pulau Galang telah disurati untuk memindahkan lokasinya karena banyak dikeluhkan oleh warga.

“Kita tahu disana banyak peternakan ayam dari perusahan-perusahaan internasional, mereka sudah direncanakan untuk kita tertibkan,” kata Mardanis.

Menurut Mardanis, kapasitas produk ayam di beberapa peternakan itu seharinya mencapai 50.000 ekor, karena tingginya kapasitas produksi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat maka Pemerintah Kota tidak dapat melakukan penertiban secara langsung karena akan berdampak pada kebutuhan ayam di Batam.

“penertiban tidak dapat dilakukan secara drastic begitu,” kata Mardanis.

Namun Mardanis tidak dapat menyebutkan berapa banyak peternakan ayam yang beroperasi di wilayah tersebut.

Kepala Biro Humas dan Promosi Badan Pengusahaan Batam Ariastuty Sirait mengatakan, pihaknya masih mengecek status lahan yang digunakan oleh perusahaan peternak ayam yang berada di wilayah Rempang dan Galang (Relang) itu karena sampai saat ini status Relang masih dalam status quo.

“kita mesti cek kembali status lahan peternakan disana seperti apa,” kata Ariastuty.

Hingga kini status lahan yang dapat diberikan izin oleh BP Batam yaitu berupa izin prinsip dan alokasi lahan sebatas yang berada di wilayah Pulau Batam dengan luas 415 Km persegi, sedangkan wilayah Rempang dan Galang (Relang) yang memiliki luas 300 Km persegi masih berstatus quo.