Ansar – Rudi (Marlin) Pecah Kongsi, Isdianto yang Futuristik

  • Bagikan
Isdianto, saat dilantik sebagai Gubernur Kepri periode 2016 - 2021 oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara.

TerasBatam.id: Hidangan udang gala di meja makan di rumah salah seorang elite partai politik di Kepulauan Riau baru saja selesai disantap. Beberapa kali suara berdehem Isdianto membuka pembicaraan antara dirinya dengan seluruh fungsionaris partai tersebut.

Gubernur Kepulauan Riau keempat Isdianto, ketika itu berencana akan maju kembali bertarung memperebutkan kursi orang nomor satu. Beberapa partai telah menyatakan dukungan kepada Isdianto, incumbent saat itu. Tinggal koalisi bersama Partai Nasdem yang akan diresmikan, sebab spanduk dukungan yang bergambar dirinya dengan Marlin Agustina, yang saat itu masih dikenal sebagai isteri dari Muhammad Rudi, Walikota Batam yang secara ex officio adalah Kepala Badan Pengusahaan Batam serta Ketua Partai Nasdem Provinsi Kepri.

Obrolan di rumah petinggi parpol yang diselingi makan bersama dengan menu Udang Gala itu dalam rangka masuknya parpol itu dalam koalisi Isdianto – Marlin. Disana hadir sejumlah nama, diantara Ketua DPD Parpol itu, anggota DPR RI Dapil Kepri, dan sejumlah nama lainnya.

Dalam perbincangan itu Isdianto membuka pembicaraan bagaimana dirinya tidak begitu nyaman untuk berpasangan dengan Marlin Agustina, walaupun sejumlah spanduk dukungan dari berbagai pihak telah terpasang. Kekhawatiran Isdianto bukan tanpa sebab, dirinya melihat bahwa intervensi terhadap kewenangannya nanti jika terpilih sebagai Gubernur Kepri periode 2021 – 2024 terlalu besar yang harus dihadapi dengan menggandeng Marlin.

“saya tak ingin itu terjadi,” kata sumber www.terasbatam.id mengulang ucapan Isdianto dalam pertemuan tersebut.

Namun siapa kira, ucapan yang mengalir polos dari bibir Isdianto rupanya menjadi pertanda akhir dari rencana koalisinya dengan Nasdem. Akhirnya seluruh spanduk yang memuat photonya berpasangan dengan Marlin Agustina yang sebelumnya terpasang dari Sungai Jodoh hingga Dapur 12 di Batam tak lagi terlihat, koalisi mereka pun batal.

Sudah dapat dilihat selanjutnya, akhirnya Ansar Ahmad, mantan Ketua DPD Golkar Provinsi Kepri dua periode itu maju dan berpasangan dengan Marlin Agustina.

Namun koalisi antara Ansar Ahmad dan Marlin Agustina yang dibangun secara instans tersebut sudah diduga banyak pihak tak akan berumur panjang, mereka dilantik pada akhir Februari 2021 oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, namun awal Maret 2021 genderang perang sudah ditabuh oleh Muhammad Rudi dengan pernyataan siap maju sebagai Calon Gubernur Kepulauan Riau mendatang.

Perjalanan kepemimpinan Ansar – Marlin yang dimulai Februari sudah terlihat tak lagi seiring sejalan, public menebak-nebak apa gerangan yang terjadi antara keduanya. Tanda paling kental adalah setiap orang nomor satu di Provinsi Kepulauan Riau itu berkunjung ke Batam dalam rangka tugas-tugasnya sebagai Gubernur, pimpinan tertinggi di daerah, perpanjangan tangan pemerintah pusat, Walikota Batam yang notabene adalah orang yang berada dibawahnya secara struktur tata pemerintahan, kerap absen untuk hadir.

“Saya tidak tahu juga hampir setiap saya acara di Batam pun, paling-paling yang hadir pak Sekda (sekretaris pemerintah daerah). Seperti tadi acara di Batam, pak Camat tidak hadir, pak Lurah tidak hadir, yang mewakili Walikota Batam tidak ada, saya tidak tahulah mengapa bisa begitu. Padahal yang kita berikan bantuan warga kita juga, ini kan kerja pemerintah, bukan kerja pribadi. Kita mesti sama-sama mendorong, karena ini kewajiban kita kepada masyarakat,” kata Ansar Ahmad merespon pertanyaan wartawan kepadanya soal hubungan dirinya dengan Marlin Agustina.

Luapan pernyataan Ansar di Hotel Harmoni Nagoya, pada 9 Agustus 2021, sepertinya banyak ditunggu orang, terutama public yang ingin mengetahui apa yang terjadi dengan orang nomor satu di Kepri, orang nomor dua di Kepri dan orang nomor satu di Batam selama 6 bulan terakhir ini.

Walaupun sebagian pihak lainnya menyayangkan sikap Ansar yang membuka persoalan tersebut kepada publik dengan cara pandang, bahwa masyarakat tidak perlu tahu persoalan itu. Tetapi apapun, keterbukaan Ansar Ahmad kepada masyarakat sangat patut diapresiasi, setidak masyarakat menjadi tahu soal bargaining politik antara mereka dan semoga menjadi pelajaran politik untuk masyarakat di masa depan dalam memilih pemimpin.

Penyebab pecah kongsi antara Ansar dan Marlin sudah jamak menjadi ujungpangkal dari bubarnya banyak koalisi antara Kepala Daerah dan Wakilnya yaitu soal bagi-bagi jabatan. Tentu jabatan yang strategis alias bukan “kaleng-kaleng” yang ingin dikuasai dan dibagikan. Tentu ini juga harus secara jujur dibuka kepada warga, kenapa jabatan seperti Sekda Provinsi cukup penting ? Kenapa Dinas A, Dinas B atau Dinas C strategis? Apa yang menyebabkan dinas tersebut masuk dalam kategori penting? Dan sebagainya, tentu harapan selanjutnya masyarakat menjadi sangat terbuka cara berpikirnya dalam memilih pemimpin kedepannya, tidak lagi termakan dengan retorika kampanye semata.

Apa yang terjadi kini diantara Ansar – Marlin, jika merujuk pada gumaman Isdianto yang selepas menyantap udang gala di rumah petinggi partai politik itu, bukan sesuatu yang diluar ekspektasi, tetapi sudah diramal oleh banyak pihak.

Sebagai catatan, Isdianto bersama pasangannya Suryani, politisi PKS, merupakan pasangan calon yang unggul di Batam, perolehan suaranya jauh meninggalkan perolehan suara Ansar Ahmad – Marlin Agustina dan pasangan Soeryo Respationo dan Iman Sutiawan.

Kini masyarakat menunggu akhir dari kegaduhan politik tingkat paling tinggi di daerah ini, what next?

Kita serahkan kepada mereka, karena toh mereka sudah sama-sama tua, sudah khatam untuk bersikap bijaksana.

 

 

 

 

  • Bagikan