Wajah Dingin Sang Menteri

  • Bagikan
cuplikan video saat wartawan Liputan6.com Ajank Nurdin dicekik pengawal Menhub.

TerasBatam.id: Ajank Nurdin, pria asal Jawa Barat yang sudah lama bermukim di Batam pagi kemarin, (16/09/2021) dicekik dan diangkat tubuhnya bak film india oleh sejumlah orang berpakaian tactikal yang mengawal Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.

BKS saat itu usai meninjau rumah susun di Tanjung Uncang, Batam yang akan dijadikan penampung Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang baru pulang dari Malaysia atau Singapore ditengah pandemi covid-19.

Ajank yang selama ini dikenal sebagai reporter portal berita www.liputan6.com, dari video yang beredar, mencoba mendekati sang menteri, tapi belum sempat mendekat sejumlah orang ajudan atau pengawal menteri menangkap tubuhnya, mencekik, memiting kepalanya kemudian mengangkat tubuhnya menjauh dari sang menteri.

Wajah Ajank sempat berusaha melirik BKS, seolah ingin memberi sinyal “tolong!!”. Tapi sang Menteri yang sejak awal menyaksikan perlakuan kasar dan tidak terukur itu menatap dengan dingin tanpa ekspresi.

Akhirnya aksi itu menjadi viral, videonya beredar kemana-mana, namun berakhir dengan press release dari Humas Kementerian yang menyampaikan permintaan maaf, bahkan disebutkan Menhub BKS menegur para pengawalnya.

Pernyataan terakhir press release itu seperti membodohi logika berpikir, karena kejadian persis dihadapan sang menteri, dan kalau memang bijak mengapa tidak dicegah saat tindakan represif tersebut terjadi.

Sejumlah orang, termasuk saya setuju jika kasus tersebut dilanjutkan proses hukumnya. agar Pasal 18 UU No 40 tahun 1999 tentang Pers dalam hal menghalangi kerja jurnalistik dengan ancaman pidana dua tahun penjara dan denda Rp 500 Juta itu diuji di hadapan hukum, dan menguji juga apakah tindakan represif yang disaksikan banyak mata itu dapat dieksekusi atau sekedar ayat hukum untuk gertak sambal semata?

Ada yang menyebutkan bahwa peristiwa tersebut terjadi karena sudah ada pengumuman sebelumnya bahwa saat kunjungan ke Rusun tidak ada wawancara door stop. walau demikian bukan berarti jika seseorang mendekat ke menteri untuk bertanya adalah HALAL untuk diperlakukan seperti itu.

Sangat disayangkan sekali jika peristiwa ini berujung pada saling maaf memaafkan seperti layaknya berlebaran. dan cukup memalukan juga jika penggiat pers di tanah air melihatnya dalam konteks yang biasa juga.

Jika dibandingkan pada peristiwa Udin, seorang wartawan di Bantul, Jogjakarta yang tewas karena tugas kewartawanannya, kasus ini cukup fenomenal karena sering diperingati sebagai hari kebebasan pers. Kasus kematiannya masih misteri. Sejumlah orang menjadikan kasus kematian Udin dan tugas jurnalistiknya sebagai studi kasus untuk tesis akademis.

Walau kasus Udin sendiri masih samar tetapi banyak orang seolah-olah bersemangat agar kasus kematiannya diusut tuntas, jika dirujuk dari rasa semangat itu maka bisa disimpulkan bahwa jika pelakunya ketemu, pastilah proses hukum akan menjadi muaranya.

Sementara untuk kasus Ajank Nurdin tersebut, korban dan pelaku pun masih sama-sama bisa dimintai keterangan, bahkan dari peristiwa ini menimbulkan pertanyaan sikap empati seorang pejabat tinggi negara, secara etik ini menjadi peristiwa yang memilukan sekali jika dihubungkan statusnya sebagai pejabat negara yang seharusnya mengayomi rakyatnya.

Beberapa minggu lalu Menteri Darurat Rusia Yevgeny Zinichev meninggal saat latihan pertahanan sipil strategis dan militer di kota Norilsk, wilayah Kutub Utara.

Sang Menteri tewas karena menyelamatkan seorang reporter yang jatuh ke laut dari helikopter saat pengambilan gambar.

Aku menjadi merinding membayangkan apa jadinya jika menteri di rusia itu seperti BKS.

semoga peristiwa yang dialami Ajank Nurdin dapat menjadi pemicu bahwa pasal 18 ayat 1 UU No 40 tahun 1999 tentang Pers itu memang sebuah jaminan, bukan isapan jempol saja!

 

  • Bagikan