BerandaSenja Ramadan di Ujung Lumpur Patam Lestari

Senja Ramadan di Ujung Lumpur Patam Lestari

Diterbitkan pada

spot_img

TERASBATAM.IDSenja menggantung pelan di langit pesisir Kampung Tua Patam Lestari, Kecamatan Sekupang. Air laut yang surut membuka hamparan lumpur luas, memperlihatkan akar-akar bakau yang tersisa dan perahu-perahu kecil yang bertumpu diam di dasar muara. Di antara deretan rumah panggung, Ramadan hadir dalam kesederhanaan yang sunyi.

Di atas jembatan kecil yang membelah kampung, seorang pria lanjut usia duduk bersandar pada sepeda motornya. Tatapannya jauh menembus garis cakrawala yang meredup. Angin asin berembus lembut, membawa aroma laut dan sisa-sisa kehidupan pesisir yang tak lagi seramai dulu.

Momen tersebut merupakan potret ngabuburit warga kampung tua. Tanpa hiruk-pikuk pusat kota atau keriuhan berburu takjil di pasar dadakan, menunggu azan di sini adalah tentang duduk diam memandangi laut.

Amriullah, salah satu warga, menuturkan bahwa kebiasaan ini sudah turun-temurun dilakukan masyarakat pesisir.

“Kalau menjelang magrib, banyak warga duduk-duduk di jembatan atau di pelantar. Sambil lihat laut surut, rasanya lebih tenang. Anginnya sejuk, jadi waktu terasa cepat sampai azan,” ujarnya kepada www.terasbatam.id, Senin (02/03/2026).

BACA JUGA:  Sajian Kue Lebaran yang Menggugah Selera

Namun, di balik ketenangan itu, tersimpan kegelisahan yang sulit disembunyikan. Laut yang dipandangi setiap hari tak lagi sama. Ekosistem yang tergerus menjadi luka yang nyata bagi warga yang menggantungkan hidup pada alam.

  • Hasil Tangkapan Menurun: Ikan-ikan mulai berkurang dan tidak lagi mendekat ke pesisir.

  • Kerusakan Mangrove: Tanaman bakau yang dahulu rapat kini kian menipis.

  • Pencemaran: Air laut yang dahulu jernih perlahan berubah menjadi keruh akibat polusi.

Bagi nelayan tanpa penghasilan tetap, Ramadan terasa lebih panjang karena ketidakpastian nafkah. Laut adalah harapan, dan ketika laut sakit, rezeki pun kian sulit diraih.

Harapan yang Tak Surut

Kontras dengan gemerlap pusat belanja di Batam, waktu di Patam Lestari berjalan lebih lambat. Hanya ada pantulan cahaya senja di alur sungai kecil yang berkelok di antara lumpur. Perahu-perahu yang kandas menunggu pasang, serupa dengan para nelayan yang menanti rezeki kembali datang.

Meski alam kian terhimpit, warga tetap setia merayakan Ramadan dengan cara mereka sendiri. Duduk memandang laut di detik-detik terakhir sebelum azan menjadi bentuk syukur sekaligus doa. Mereka berharap alam kembali pulih, ikan-ikan kembali mendekat, dan kampung tua mereka tetap mampu bertahan di tengah derasnya perubahan zaman.

BACA JUGA:  Era Digital: Batas Antara Jurnalis dan Influencer Semakin Kabur

Senja turun sepenuhnya. Di ujung lumpur yang mengering, suara azan magrib segera memecah hening, menutup hari dengan harapan sederhana: bahwa esok, laut akan kembali ramah kepada mereka.

[kang ajank nurdin]

Latest articles

Warga Hong Kong Serbu SPBU di Daratan China

TERASBATAM.ID – Eskalasi konflik bersenjata di Timur Tengah mulai memukul sektor energi di Asia...

Gercep! Polisi Cek TKP Kebakaran Pantai Stress

TERASBATAM.ID -  Seorang warga bernama Akbar melaporkan kebakaran di kawasan Pantai Stress, Jalan Duyung...

Dua Ribu Umat Hindu Surabaya Jalani Melasti

TERASBATAM.ID – Sedikitnya 2.000 umat Hindu di Kota Surabaya memadati Pantai Arafuru di kawasan...

Melasti di Surabaya, Harmoni di Tepi Arafuru

TERASBATAM.ID – Debur ombak di Pantai Arafuru, Kawasan Akademi Angkatan Laut (AAL) Bumi Moro,...

More like this

Warga Hong Kong Serbu SPBU di Daratan China

TERASBATAM.ID – Eskalasi konflik bersenjata di Timur Tengah mulai memukul sektor energi di Asia...

Gercep! Polisi Cek TKP Kebakaran Pantai Stress

TERASBATAM.ID -  Seorang warga bernama Akbar melaporkan kebakaran di kawasan Pantai Stress, Jalan Duyung...

Dua Ribu Umat Hindu Surabaya Jalani Melasti

TERASBATAM.ID – Sedikitnya 2.000 umat Hindu di Kota Surabaya memadati Pantai Arafuru di kawasan...