TERASBATAM.ID Dalam sebuah video yang baru-baru ini diunggah melalui akun media sosialnya, Prof. Rhenald Kasali, Ph.D., menyampaikan analisis mendalam mengenai situasi ekonomi global yang sedang dihadapi Indonesia. Pakar manajemen dan ekonomi ini mengawali paparannya dengan menyoroti pertemuan antara Jusuf Kalla dan sembilan ekonom nasional yang dinilainya bukan sekadar diskusi rutin biasa.
Menurut Prof Rhenald, keterlibatan Jusuf Kalla—sebagai sosok dengan latar belakang pendidikan ekonomi dan pengalaman langsung dalam transformasi energi—menjadi sinyal penting yang tidak boleh diabaikan. “Perhatian Jusuf Kalla terhadap gejolak global saat ini menjadi alarm yang harus segera kita antisipasi,” tegasnya.
Inti dari pesan yang disampaikan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia ini adalah peringatan serius: Indonesia berisiko mengalami gagal bayar atau default pada kuartal ketiga tahun 2026, khususnya antara bulan Juli hingga September, jika tidak mengambil langkah antisipasi sejak sekarang.
Tiga Ancaman yang Bergerak Bersamaan
Dalam paparannya, Prof Rhenald mengidentifikasi tiga ancaman utama atau *Triple Threat* yang sedang bergerak simultan dan memerlukan skenario antisipasi matang:
1. Krisis Energi dan Ketegangan di Timur Tengah
Ancaman pertama datang dari eskalasi konflik di Timur Tengah yang berpotensi menutup Selat Hormuz—jalur vital pengangkutan minyak dunia. “Jika jalur ini terganggu, krisis energi akan berkepanjangan dan harga minyak dunia diprediksi akan menggila,” ungkapnya. Prof Rhenald memperingatkan bahwa harga minyak akan melampaui ambang batas psikologis 100 dolar AS, dengan skenario terburuk mencapai 120, 150, bahkan 200 dolar AS per barel. Kondisi ini, menurutnya, menuntut Indonesia memiliki cadangan energi yang kuat agar tidak terjadi kepanikan di masyarakat.
2. Bencana El Nino dan Krisis Pangan
Ancaman kedua datang dari fenomena alam. El Nino diprediksi akan muncul pada pertengahan tahun ini dan mencapai puncaknya pada tahun depan. Dampaknya sangat mengkhawatirkan: kekeringan luar biasa, kesulitan air bersih, kegagalan panen, hingga kebakaran hutan. “Ujung dari rantai bencana ini adalah lonjakan harga pangan yang akan memukul daya beli masyarakat luas,” jelas Prof Rhenald dengan nada prihatin.
3. Risiko Gagal Bayar
Akumulasi dari krisis energi dan pangan, ditambah dengan beban hutang yang jatuh tempo, menciptakan tekanan fiskal yang sangat berat bagi negara. Inilah yang melatarbelakangi prediksi potensi default pada kuartal ketiga 2026.
“Inilah alasan mengapa prediksi mengenai potensi gagal bayar menjadi sangat relevan untuk segera dimitigasi sejak hari ini,” tegasnya.
Strategi Bertahan di Tengah Badai
Mengakhiri paparannya, Prof Rhenald memberikan rekomendasi eksekutif bagi para pemimpin bisnis, CEO, maupun manajer. Menurutnya, saat ini bukanlah waktu untuk bersantai dengan kemewahan. Ada tiga strategi yang harus diambil:
Pertama, preparing for the worst, expecting for the best—membangun skenario terburuk agar organisasi siap bertahan dalam kondisi paling sulit sekalipun.
Kedua, strengthening reserves—memastikan ketersediaan cadangan, baik energi, pangan, maupun tenaga lebih untuk berjaga-jaga.
Ketiga, stay relevant dan collaborative—di tengah badai ekonomi, kerja sama dan saling membantu antar sesama menjadi kunci untuk tetap bertahan.
“Kita harus bersiap dari sekarang. Jangan sampai krisis datang saat kita belum memikirkan jalan keluarnya,” pungkas Prof Rhenald Kasali dalam video tersebut.


