TERASBATAM.ID — Di sela hiruk-pikuk mesin industri dan gemerlap kawasan perdagangan bebas, Batam menyimpan denyut lain yang berdegup pelan namun kental. Denyut itu berasal dari tepian, dari kampung-kampung pesisir yang masih setia menggema. Salah satunya, pada Jumat malam lalu (14/05/2026), bergema dari Tanjung Uma.
Malam itu, kampung pesisir di pinggiran Kota Batam berubah semarak. Bukan oleh cahaya pabrik, melainkan oleh obor budaya Melayu yang dinyalakan bersama. Dendang musik tradisional mengalun, berpadu dengan hentakan tari, deklamasi puisi, dan coretan seni lukis di atas kanvas. Atmosfer perkampungan Melayu yang hangat dan penuh nilai tradisi terasa begitu kental.
Panggung utama berdiri di tengah kampung, dihiasi dekorasi ukiran Melayu yang disinari lampu-lampu temaram. Para penari tampil memukau dengan gerak lambat yang sarat makna, diiringi alunan biola, akordeon, dan gendang yang khas.
“Ini lebih dari sekadar pertunjukan. Ini cara kami mengingat siapa kami,” ujar seorang penari di sela-sela persiapan, matanya berbinar di balik riasan panggung.
Kegiatan bertajuk Kenduri Melayu tingkat Kecamatan ini mengusung tema “Menyemai Benih Budaya, Memetik Ranggi Peradaban”. Bagi masyarakat pesisir Tanjung Uma, ini bukan sekadar acara biasa, melainkan kebanggaan. Sebuah panggung untuk menunjukkan bahwa di tengah arus modernisasi, akar Melayu mereka tetap hidup.
Tak hanya tarian, malam itu pengunjung juga disuguhkan puisi Melayu yang mengalun sendu dan pameran seni rupa. Sejumlah pelukis menampilkan karya bertema sejarah dan kehidupan masyarakat pesisir. Ada lukisan Hang Nadim, pahlawan Melayu legenda dari kepulauan Riau. Ada pula gambaran kehidupan Suku Laut, yang identik dengan budaya maritim yang menjelajah ombak.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Ardiwinata, yang hadir di lokasi, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian menuju puncak Kenduri Seni Melayu (KSM) 2026. Puncak acara dijadwalkan berlangsung pada Juli mendatang di Alun-alun Engku Putri.
“Ini sangat luar biasa. Kami memberi ruang kepada para seniman kecamatan hingga tingkat kampung agar bisa tampil dan menunjukkan kreativitas mereka,” kata Ardiwinata.
Menurutnya, panggung utama KSM selama ini dinilai belum cukup menampung seluruh komunitas seni di Batam. Maka, “Jelang Kenduri” ini hadir sebagai solusi. Sebelumnya, kegiatan serupa digelar di kawasan Sagulung yang melibatkan sejumlah kecamatan seperti Sekupang, Belakang Padang, dan Batuaji. Malam itu di Tanjung Uma, giliran seniman dari Kecamatan Lubuk Baja, Sei Beduk, Batam Kota, dan Bengkong yang tampil.
“Nanti masih ada untuk kecamatan lain. Jadi semua seniman di Batam bisa mendapatkan panggung,” janjinya.
Ada yang menarik dari gelaran ini. Di sela-sela panggung, di sela-sela tepuk tangan penonton yang duduk lesehan di atas tikar, tampak warga setempat ikut menjajakan dagangan. Bazar UMKM masyarakat pesisir turut meramaikan. Aneka kuliner tradisional dan produk lokal dijajakan. Ardiwinata menyebut, kehadiran bazar itu diharapkan mampu mendorong perputaran ekonomi masyarakat sekitar.
“Kita dampingi juga dengan bazar, sehingga perputaran ekonomi masyarakat juga tinggi di sini,” ujarnya.
Malam itu, Batam tidak berbicara tentang pabrik atau bursa saham. Batam berbicara tentang gurindam, tentang pantai, tentang langgam yang diwariskan turun-temurun.
Ardiwinata juga menyampaikan kabar membanggakan: Kenduri Seni Melayu 2026 telah masuk dalam kalender event nasional Kementerian Pariwisata melalui program Karisma Event Nusantara (KEN). Tak hanya itu, tahun ini KSM direncanakan menghadirkan peserta dari negara serumpun seperti Brunei Darussalam, Malaysia, dan Thailand, serta perwakilan sejumlah provinsi di Indonesia.
“Insya Allah nanti juga hadir maestro tari nasional bahkan internasional, Didi Nini Thowok,” ungkapnya dengan senyum penuh harap.
Malam semakin larut. Namun, suara dendang masih terdengar sayup-sayup di tengah desiran angin laut. Di Tanjung Uma, warga tak hanya menonton—mereka larut, mereka bernyanyi, mereka menjadi bagian dari pertunjukan itu sendiri. Anak-anak berlarian di antara kerumunan, orangtua duduk bersila menikmati hidangan tradisional.
Di sebuah sudut, seorang pelukis menyelesaikan goresan terakhirnya: perahu kayu meluncur di atas laut tenang, dengan latar matahari terbenam yang jingga. “Ini Batam yang jarang dilihat orang,” katanya pelan.
Tepat. Di tengah gempuran kawasan industri, Batam pesisir itu masih ada. Dan malam itu, ia bersuara.
[kang ajank nurdin]


