BerandaBeritaWalhi Kritik Keterlibatan Militer di Proyek Rempang Eco City

Walhi Kritik Keterlibatan Militer di Proyek Rempang Eco City

Diterbitkan pada

spot_img

TERASBATAM.id- Polemik pembangunan Rempang Eco City kembali mencuat. Kali ini, sorotan tertuju pada keterlibatan militer dalam percepatan proyek tersebut. Badan Pengusahaan Batam (BP Batam) telah mengkonfirmasi kerja sama dengan Komando Resor Militer (Korem) 033 Wira Pratama untuk mendukung pembangunan proyek strategis nasional (PSN) ini.

Langkah BP Batam tersebut menuai kritik dan protes dari berbagai pihak, salah satunya Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Riau. Manajer Kampanye dan Pengarusutamaan Keadilan Iklim WALHI Riau, Ahlul Fadli, menyayangkan pelibatan militer dalam proyek yang tengah menuai penolakan dari masyarakat adat Rempang.

“Kami sangat menyayangkan tindakan BP Batam yang bersikeras melanjutkan pembangunan PSN Rempang Eco-City di tengah situasi Rempang yang masih tidak kondusif pasca peristiwa kekerasan oleh PT MEG Desember lalu,” ujar Ahlul dalam siaran pers, Rabu (15/01/2025).

Dalam siaran persnya, BP Batam menyebutkan bahwa kerja sama dengan Korem 033 Wira Pratama akan fokus pada penyiapan infrastruktur dasar dan pembangunan rumah baru bagi warga terdampak. Selain itu, kedua pihak juga akan berkolaborasi dalam program ketahanan pangan untuk mendukung program makan bergizi gratis.

BACA JUGA:  Warga Rempang Geruduk BP Batam, Protes Penggusuran Kebun

Namun, WALHI menilai bahwa melibatkan perusahaan swasta seperti PT MEG dalam program ketahanan pangan justru akan merugikan masyarakat Rempang yang selama ini telah memiliki sumber daya pertanian dan perkebunan sendiri.

Pelibatan militer dalam proyek Rempang Eco City dikhawatirkan akan semakin memperburuk situasi di lapangan. “Pendekatan militeristik ini berpotensi memicu kekerasan dan pelanggaran HAM terhadap masyarakat Rempang,” tegas Ahlul.

WALHI juga menyoroti ketidaktransparanan BP Batam dalam proses relokasi dan belum adanya Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) yang lengkap. Hal ini menunjukkan bahwa proyek ini dipaksakan tanpa mempertimbangkan hak-hak masyarakat adat.

Ahlul mendesak pemerintah untuk mengevaluasi kembali proyek Rempang Eco City dan menghentikan segala bentuk kekerasan yang terjadi. “Proyek ini tidak hanya merampas tanah dan sumber penghidupan masyarakat, tetapi juga mengancam keberlangsungan budaya dan identitas mereka,” ujarnya.

Latest articles

Bidikan Persahabatan Dua Angkatan Laut

TERASBATAM.ID — Wakil Kepala Staf Angkatan Laut (Wakasal) Laksamana Madya Edwin melakukan kegiatan menembak...

Wagub Kepri Targetkan Semua OPD Informatif

TERASBATAM.ID – Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau melalui Dinas Komunikasi dan Informatika menggelar Rapat Koordinasi...

Proyek Gas Cisem 2 Tanpa Cela, KPPU Ketuk Palu

TERASBATAM.ID — Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mengetuk palu, memutuskan bahwa seluruh terlapor dalam...

Sambut Idul Adha, Batam Gelar Pawai Takbir dan Mobil Hias Berhadiah Rp 36 Juta

TERASBATAM.ID — Pemerintah Kota Batam mulai mematangkan persiapan Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah. Berbeda...

More like this

Bidikan Persahabatan Dua Angkatan Laut

TERASBATAM.ID — Wakil Kepala Staf Angkatan Laut (Wakasal) Laksamana Madya Edwin melakukan kegiatan menembak...

Wagub Kepri Targetkan Semua OPD Informatif

TERASBATAM.ID – Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau melalui Dinas Komunikasi dan Informatika menggelar Rapat Koordinasi...

Proyek Gas Cisem 2 Tanpa Cela, KPPU Ketuk Palu

TERASBATAM.ID — Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mengetuk palu, memutuskan bahwa seluruh terlapor dalam...