TERASBATAM.ID — Riuh rendah suara hitung mundur memecah suasana di sudut Tampines Mall, Singapura, Minggu (8/3/2026) malam. “Lima, empat, tiga, dua, satu!” Seruan itu bukan menandai pergantian tahun, melainkan sebuah perpisahan emosional bagi sebuah ikon kuliner yang telah berdiri tegak selama 30 tahun: McDonald’s Tampines Mall.
Bagi warga setempat, gerai ini bukan sekadar tempat menyantap burger dan kentang goreng. Selama tiga dekade, dinding-dindingnya telah menjadi saksi bisu ribuan cerita—mulai dari remaja yang mengerjakan tugas sekolah hingga keluarga yang merayakan ulang tahun sederhana.
Pesta perpisahan malam itu jauh dari kesan kaku. Manajemen gerai sengaja menggelar acara khusus bagi pelanggan setia dan staf mereka. Di salah satu sudut, sebuah “Tembok Apresiasi” dipenuhi dengan ratusan lembar kertas catatan berwarna-warni.
“Terima kasih telah menjadi bagian dari masa kecilku,” tulis salah satu pelanggan di secarik kertas sticky note.
Lain lagi dengan ucapan penuh haru yang ditujukan bagi para staf. “Terima kasih, Paman,” ujar seorang pelanggan sembari menjabat tangan staf senior yang telah melayani mereka selama bertahun-tahun dengan senyum yang sama.
Suasana haru semakin memuncak saat staf mengumumkan “pesanan terakhir.” Tidak ada wajah lelah, yang ada hanyalah pelukan hangat dan sesi foto bersama di photo booth yang telah disediakan. Berbagai permainan kecil juga digelar untuk mencairkan suasana sedih menjadi perayaan atas kebersamaan yang telah terjalin sejak awal tahun 1990-an.
McDonald’s Tampines Mall kini telah resmi menutup pintunya. Meski lampu gerai telah dipadamkan, bagi komunitas di Tampines, kenangan manis selama 30 tahun tersebut akan tetap tersimpan rapat, seperti rasa saus sambal yang khas di ujung lidah.


