TERASBATAM.ID – Tentara Malaysia kembali menunjukkan keseriusannya memodernisasi alutsista artileri medan dengan meluncurkan tender pengadaan 36 unit meriam ringan kaliber 105 mm pada Oktober 2025. Program yang dialokasikan senilai sekitar 166 juta dolar AS atau setara Rp2,7 triliun ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan operasional yang mendesak, sekaligus merevitalisasi resimen artileri yang ada.
Langkah ini dinilai krusial untuk meningkatkan daya tembak bergerak (mobile firepower) di medan yang beragam, mulai dari wilayah padat penduduk hingga hutan lebat di kawasan Asia Tenggara.
Beberapa kandidat utama yang masuk dalam dafta calon pemenang tender antara lain LG1 Mk III (KNDS Perancis), Boran (MKE Turki), KH-178 (Hyundai WIA Korsel), serta CS/AH2 (Poly Technologies China). Dalam setiap seleksi teknologi militer, faktor mobilitas menjadi pertimbangan utama. LG1 Mk III dinilai unggul karena dapat ditarik dengan kecepatan aman hingga 100 km/jam berkat sistem pengereman canggih, sementara kompetitor lain seperti Boran dan KH-178 hanya mampu melaju maksimal 60 km/jam. Dari segi mobilitas udara, hanya LG1 Mk III dan Boran yang dikonfirmasi cocok diangkut helikopter utilitas ringan.
Meskipun seluruh sistem mampu mencapai jarak tembak minimum 17 kilometer, kecepatan tembak (rate of fire) menjadi pembeda signifikan. LG1 Mk III mampu menembakkan hingga 16 butir per menit, tertinggi di antara pesaingnya, diikuti KH-178 dengan 15 butir per menit. Sementara itu, Boran hanya sanggup menembakkan enam butir per menit. Selain itu, integrasi sistem kendali tembakan digital menjadi nilai tambah karena LG1 Mk III telah memiliki jaringan arsitektur terintegrasi yang kompatibel dengan sistem yang sudah digunakan tentara Malaysia saat ini.
Kepala Staf Angkatan Darat Malaysia Jenderal Datuk Azhan Md Othman dalam uji coba sebelumnya menyatakan, “Lingkungan operasional Malaysia yang didominasi area padat dan hutan sangat menguntungkan penggunaan meriam ringan untuk memastikan mobilitas tinggi.”
Pilihan akhir tampaknya akan jatuh pada LG1 Mk III yang dinilai paling seimbang dan modern, meskipun Boran muncul sebagai pesaing terdekat dengan keterbatasan pada laju tembakannya. Sementara KH-178 dianggap memiliki awak paling besar (8 orang) dan kurang fleksibel untuk misi angkut udara.


