TERASBATAM.ID – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menginstruksikan aparat penegak hukum untuk membongkar jaringan penyelundupan beras di Batam hingga ke akarnya. Instruksi keras ini keluarkan menyusul temuan anomali distribusi pangan yang tidak masuk akal di wilayah Kepulauan Riau (Kepri).
Dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Apkasi ke-XVII di Batam, Senin (19/1/2026), Amran menyoroti pola pengiriman beras dari Tanjungpinang menuju Palembang, Sumatera Selatan. Menurutnya, hal ini menyalahi logika logistik pangan nasional.
“Ini yang menarik di Kepri. Ada beras dari Tanjungpinang—padahal tidak punya sawah—mau dikirim ke Palembang yang justru surplus 1,5 juta ton. Silakan terjemahkan sendiri apa modusnya,” ujar Amran.
Pola pengiriman dari wilayah non-produsen ke wilayah lumbung pangan ini menjadi indikasi kuat masuknya beras impor ilegal melalui pelabuhan tikus. Di Batam, praktik ini kerap terjadi dengan modus mengemas ulang (repacking) beras impor asal Thailand atau Vietnam menggunakan karung bermerek lokal yang hanya beredar di Kepri.
Pengkhianat Bangsa
Amran menegaskan tidak ada kompromi bagi mafia pangan. Ia menyebut pelaku penyelundupan sebagai “pengkhianat bangsa” karena mencederai swasembada pangan yang baru saja dicapai Indonesia dan mematikan mata pencarian 115 juta petani.
“Harus ditindak tegas. Kita setengah mati berjuang untuk swasembada, mereka mengkhianati perjuangan kita. Jangan mempermainkan nasib rakyat kecil,” tegasnya.
Indikasi penyelundupan ini bukan isapan jempol semata. Sebelumnya, pada Senin (24/11/2025), Tim Gabungan Kodim 0316/Batam berhasil menyita tiga kapal (KM Sampurna, KM Permata Pembangunan, dan KM Rezky Di Laut) di Pelabuhan Tanjung Sengkuang. Ketiganya kedapatan memuat 40,4 ton beras impor ilegal tanpa dokumen kepabeanan maupun pelayaran yang sah.
Wali Kota Batam Amsakar Achmad menyatakan dukungan penuhnya terhadap langkah Mentan. Ia mengakui posisi Batam di perbatasan membuat wilayahnya rentan menjadi pintu masuk barang ilegal, namun pemerintah daerah berkomitmen menutup ruang gerak mafia tersebut.
Menanggapi alasan distributor yang enggan menyerap beras lokal karena alasan kualitas, Amran menampik hal tersebut. “Jangan cerita kualitas untuk membenarkan impor. Beritahu distributor, cintai Merah Putih,” pungkasnya.
[kang ajank nurdin]


