TERASBATAM.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas I Hang Nadim Batam saat ini tengah melakukan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan. Langkah ini diambil sebagai upaya antisipasi dampak fenomena El Nino yang mulai memengaruhi ketersediaan air baku di sejumlah waduk di Batam.
Kepala BMKG Batam, Ramlan, S.Si, M.Si, menjelaskan bahwa meskipun dampak El Nino di wilayah Kepulauan Riau (Kepri) tidak seekstrem di Pulau Jawa, namun penurunan curah hujan mulai dirasakan pada debit air waduk.
“Tipikal curah hujan di Kepri ini ekuatorial, pengaruh El Nino memang ada namun tidak sehebat di Jawa. Namun, karena sudah ada tanda-tanda pengurangan debit air di waduk, BP Batam melalui SPAM menginisiasi modifikasi cuaca ini,” ujar Ramlan dalam wawancara, Kamis (21/05/2026).
Teknis “Memancing” Hujan
Secara teknis, Ramlan menjelaskan bahwa hujan buatan dilakukan dengan menyemai bahan semai berupa garam (NaCl) ke awan-awan yang memiliki potensi hujan. Garam berfungsi sebagai inti kondensasi untuk merekatkan awan yang terpencar agar menyatu dan jatuh sebagai hujan di target sasaran, yakni area tangkapan air waduk.
“Jika tidak ditaburi garam, mungkin hanya akan menjadi awan tebal saja tanpa hujan. Kami mencari target di sekitar waduk agar level air bertambah,” tambahnya.
Durasi dan Anggaran
Operasi TMC di Batam ini direncanakan berlangsung selama 20 hari, yang telah dimulai sejak 15 Mei lalu. Ramlan menyebutkan bahwa pemilihan waktu di bulan Mei sangat krusial karena awan potensial masih tersedia sebelum memasuki puncak musim kemarau.
Dalam pelaksanaannya, satu kali penerbangan penyemaian rata-rata menghabiskan satu ton garam. Dalam sehari, pesawat bisa terbang hingga dua kali tergantung kondisi awan di langit Batam.
Terkait anggaran, Ramlan memberikan gambaran bahwa biaya terbesar bukan terletak pada bahan semai, melainkan pada operasional penerbangan.
“Kalau garamnya sendiri murah, yang mahal itu sewa pesawat, bahan bakar (avtur), hingga personelnya. Perkiraan saya, satu kali terbang itu bisa menghabiskan biaya sekitar Rp200 juta yang mencakup seluruh komponen operasional,” jelasnya.
Saat ini, pihak BMKG terus bersiaga memantau pertumbuhan awan sambil berkoordinasi dengan pihak maskapai dan BP Batam untuk memastikan jadwal penerbangan penyemaian berjalan efektif.
[kang ajank nurdin]


