Dugaan Kartel di Balik Kenaikan Harga Tiket Ferry Batam-Singapura

KPPU: "Operator Ferry Tidak Kooperatif!"

TERASBATAM.ID: Kenaikan harga tiket ferry Batam-Singapura yang tak wajar selama dua tahun terakhir tampaknya bukan sekadar dampak pandemi. Dugaan kuat mengarah pada praktik kartel yang dilakukan oleh operator ferry di Batam.

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menemukan indikasi kuat bahwa operator ferry bekerja sama untuk menaikkan harga tiket secara ilegal. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Kantor Wilayah I KPPU Ridho Pamungkas kepada www.terasbatam.id, Selasa (04/06/2024).

“Kami menemukan indikasi kuat adanya kartel di balik kenaikan harga tiket ferry Batam-Singapura yang tidak wajar,” tegas Ridho.

Dugaan kartel ini diperkuat dengan beberapa fakta, di antaranya:

  • Kenaikan harga tiket yang signifikan sejak tahun 2020, bahkan mencapai Rp900.000 per orang, tidak sebanding dengan biaya operasional yang sebenarnya.
  • Harga tiket ke Johor Bahru dengan durasi perjalanan dua jam lebih murah dibandingkan ke Singapura yang hanya 1 jam.
  • Ketidakkooperatifan pihak operator ferry dalam memberikan data yang dibutuhkan untuk investigasi KPPU.

Lebih lanjut, Ridho mengungkapkan bahwa KPPU mengalami kendala dalam menuntaskan kasus ini karena “ketidakkooperatifan” dari beberapa operator ferry.

“Beberapa pelaku usaha belum bersikap kooperatif dalam memberikan data, sehingga menghambat dalam analisa pembuktiannya,” kata Ridho.

Selain itu, KPPU juga terhambat oleh keberadaan induk perusahaan operator ferry yang berada di Singapura. Hal ini mempersulit KPPU untuk melakukan pemeriksaan dan penindakan.

“Induk perusahaannya di Singapura, sehingga menyulitkan bagi KPPU untuk melakukan pemeriksaan,” ujarnya.

Meski demikian, KPPU menegaskan komitmennya untuk menuntaskan kasus ini. KPPU akan kembali menggelar diskusi kelompok terpumpun (FGD) di Batam pada 11 Juni 2024 mendatang untuk mengumpulkan lebih banyak data dan informasi.

“Kita akan bahas di Batam pada FGD 11 Juni mendatang. Kami berkomitmen akan menuntaskan masalah ini,” kata Ridho.

Kenaikan harga tiket ferry yang tidak wajar ini telah membebani masyarakat dan menghambat pemulihan ekonomi di Batam. Diharapkan KPPU dapat segera menyelesaikan investigasinya dan menindak tegas para pelaku kartel agar harga tiket ferry kembali ke level yang wajar.

Keluhan Pengguna Ferry:

Salah satu pengguna ferry, Norazani Shaiddin (63), warga negara Singapura, mengeluhkan kenaikan harga tiket yang tidak wajar. Ia merasa harga tiket ferry Batam-Singapura saat ini sangat mahal, bahkan lebih mahal dibandingkan tiket pesawat ke Phuket, Thailand.

“Dengan harga sebesar itu sudah bisa terbang ke Phuket Thailand dengan pesawat. Saya merasakan sudah lama tetapi tidak tahu mau bilang dengan siapa hal ini,” kata Norazani yang setiap Jumat ke Batam untuk mengunjungi keluarganya.

Kasus dugaan kartel ferry Batam-Singapura ini menjadi perhatian serius banyak pihak. Diharapkan dengan terbongkarnya praktik ini, KPPU dapat segera mengambil tindakan tegas untuk melindungi hak-hak konsumen dan menciptakan pasar yang sehat dan kompetitif.